AKURAT.CO Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai langkah Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif timbal balik atau reciprocal tariff sebagai upaya menyelamatkan fiskal negara Paman Sam tersebut.
Menurutnya, Indonesia tidak perlu kaget dengan kejutan Trump yang lagi-lagi mengguncang dunia. Trump saat ini sedang sangat putus asa. Ibarat orang yang akan tenggelam, apa pun akan ia coba raih untuk tetap mengapung, termasuk ranting kecil yang rapuh sekalipun.
"Tidak peduli apakah negara besar atau negara kecil dengan ekonomi rentan, Trump coba tekan dan ambil untung daripadanya," terang Wijayanto dalam keterangannya, Kamis (3/4/2025).
Apalagi, lanjut Wijayanto, hal ini merupakan sesuatu yang secara konsisten muncul dalam setiap pidato Trump. "Puncaknya, dalam pidato State of the Union yang baru lalu, Trump menjanjikan akan mewujudkan anggaran berimbang (balance budget) atau defisit nol persen PDB dalam masa pemerintahannya," imbuhnya.
Wijayanto juga menekankan bahwa kondisi Amerika memang menakutkan. Tahun ini diperkirakan budget deficit mencapai USD1,1 triliun atau 6,2% PDB dan diprediksi akan tetap berada di kisaran 5% hingga hampir satu dekade ke depan.
Baca Juga: RI Kena Tarif Trump, Sesmenko Perekonomian Buka Suara
Dengan cara-cara normal, total utang AS akan melejit dari USD36 triliun (2025) menjadi USD57 triliun (2034) dan dalam situasi ini kebangkrutan fiskal sudah di depan mata. Barangkali, dalam kaca mata Trump, menjadi tidak normal adalah sesuatu yang normal saat ini.
"Apa pilihan Trump? Menaikkan pajak adalah hal yang tidak mungkin karena bertentangan dengan prinsip Partai Republik yang pro small government (pajak rendah). Sehingga langkah yang diambil Trump adalah dengan menaikkan tarif, yang di mata Pemerintah Federal esensinya sama dengan menaikkan pajak," sambung Wijayanto.
Akhirnya, rakyat AS yang harus membayar pajak terselubung tersebut dengan membeli barang impor dengan harga lebih mahal.
Ia menambahkan, sesungguhnya tarif hampir identik dengan pajak. Bedanya, rakyat tidak marah karena ini bisa dinarasikan sebagai kebijakan menyelamatkan industri dan lapangan kerja bagi rakyat AS.
Kendatipun dalam realitanya nanti tarif tidak akan mampu membangkitkan industri manufaktur AS yang sudah lama terlelap karena tidak efisien dan biaya produksi yang teramat mahal.
Bagi dunia, langkah Trump akan berakibat pada perlambatan ekonomi yang masif. Bisa dipastikan IMF, World Bank, OECD dan berbagai lembaga international lainnya akan segera melakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.
Risiko investasi global akan semakin tinggi, sehingga attitude “fly to quality” kembali terjadi, dimana investor merelokasi investasi ke alternatif yang lebih aman.
Sudah barang tentu emas, surat utang pemeritah, dan aset berdenominasi hard currency menjadi tujuan. Ekonomi banyak negara akan terdampak, baik melalui transmisi perdagangan dan/atau investasi.
Harga saham dunia akan semakin volatile dengan trend menurun; nilai tukar mata uang banyak negara pun akan menunjukkan perilaku yang sama.
Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh dimana impian untuk tumbuh 5% tahun ini semakin tidak realistis. IHSG akan semakin volatile dan cenderung melemah, terutama untuk beberapa sektor berorientasi ekspor.
Sejalan dengan itu, rupiah akan tertekan dan cenderung melemah. Upaya refinancing utang dan utang baru sebesar Rp800 triliun dan Rp700 triliun di tahun ini tidak akan mudah.
Selain kebutuhan akan return yang lebih menarik, Indonesia juga menghadapi pasar yang semakin berat, mengingat ekspor ke AS didominasi oleh produk industri padat karya (sepatu, TPT, produk karet, alat Listrik dan elektronik), maka tekanan PHK akan semakin kuat.
Wijayanto menegaskan, langkah Trump adalah langkah unilateral yang brutal dengan motif menyelamatkan keuangan negara.
Sebelum pengumuman kebijakan reciprocal tariff dilakukan, berbagai negara telah mencoba melakukan negosiasi, termasuk India, Vietnam dan Korea Selatan yang mempunyai lobbyist kuat di Washington DC. Tetapi mereka gagal total, negara-negara itu seperti sedang menghadapi tembok beton.
Dalam konteks ini, upaya negosiasi bukan pilihan yang mungkin dilakukan, termasuk oleh Indonesia, paling tidak dalam 1-2 tahun ke depan. AS sedang dalam survival mood, apalagi kemampuan lobi Indonesia sangat terbatas.
Lalu apa langkah yang perlu dilakukan Indonesia dalam waktu dekat? Setidaknya ada 7 langkah yang perlu diprioritaskan.
Pertama, Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa untuk menghadapi rally “perang mata uang” yang panjang. Wijayanto juga berpendapat, kebijakan DHE perlu segera diterapkan dengan tuntas.
Kedua, pemerintah perlu melakukan rekalibrasi APBN, program boros anggaran perlu dikurangi untuk memprioritaskan program jangka pendek yang berdampak langsung pada daya beli dan penciptaan lapangan kerja.
Demand dari dalam negeri perlu distimulus untuk menggantikan demand dari luar negeri yang berpotensi menurun.
Ketiga, pengetatan impor legal dan penghentian impor illegal secara total. Selain menciderai produsen dalam negeri, ini juga membuat negara kehilangan potensi pendapatan.
Keempat, penguatan industri jasa keuangan, terutama perbankan dan pasar modal, untuk mampu berperan sebagai shock absorber bagi semakin tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
Kelima, pemerintah perlu segera mengeluarkan kebijakan komprehensif yang kongkrit dan realistis serta dinarasikan dengan baik.
Berbagai kalangan masih belum melihat dengan jelas ke mana ekonomi negeri ini akan dibawa oleh Pemerintahan Prabowo.
Keenam, memperkuat kerjasama perdagangan dan investasi dengan berbagai negara dengan memanfaatkan sentimen “perasaan senasib”, termasuk dengan EU, ASEAN, India, Timur Tengah, bahkan Afrika dan Amerika latin.
Ketujuh, membentuk tim negosiasi yang disiapkan untuk bernegosiasi dengan AS saat kondisi sudah memungkinan.
"Keandalan kepemimpinan Pak Prabowo dan soliditas kabinet diuji bukan oleh kondisi nyaman, tetapi oleh kondisi penuh gejolak seperti saat ini. Rakyat menunggu langkah brilliant Pak Prabowo dalam 'melakukan tujuh langkah menuju langit ketujuh'," tukas Wijayanto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









