Tampil Matchy Berbaju Putih di Cirebon, Gus Miftah & Gus Yusuf Sinyalkan Duet Maut Nakhoda Masa Depan PBNU?

AKURAT.CO, Pemandangan tak biasa terlihat di Ballroom Hotel Aston Cirebon baru-baru ini. Tiga "bintang" besar di langit Nahdlatul Ulama (NU)—Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah tertangkap duduk akrab dalam satu meja dengan outfit senada, yakni kemeja putih formal dipadu peci hitam ikonik santri.
Kehadiran trio ulama ini bukan untuk acara selawat biasa, melainkan untuk "nyantri" bareng dalam agenda Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) yang digelar pada 13-17 Mei 2026.
Baca Juga: Cak Imin Didorong Masuk sebagai Bursa Caketum PBNU pada Muktamar NU ke-35
Meski sudah punya nama besar, ketiganya membuktikan bahwa tak ada kata "senior" di hadapan supremasi organisasi.
Di bawah bimbingan instruktur senior PBNU, KH Masyhuri Malik, ketiganya mengikuti setiap tahapan kaderisasi sakral ini dengan khidmat.
Kehadiran mereka seolah mengirim pesan kuat bagi jutaan warga Nahdliyin bahwa popularitas di media sosial harus berbanding lurus dengan kematangan organisatoris.
Seorang sumber di lokasi menyebutkan, momen ini adalah simbol regenerasi yang terukur.
“Ini bukan sekadar formalitas pengaderan. Kehadiran beliau-beliau adalah pesan kuat bahwa masa depan NU berada di tangan pemimpin yang tak hanya populer, tapi juga terdidik secara organisatoris,” ungkap salah satu peserta di lokasi.
Gus Miftah yang dikenal sebagai dai milenial nyentrik ini menekankan pentingnya PMKNU sebagai kawah candradimuka. Baginya, menjadi kader NU di era digital bukan sekadar soal massa, tapi soal ideologi yang kokoh.
"Kader NU hari ini dituntut punya paket lengkap: wawasan ke-NU-an yang luas, ideologi Aswaja yang kuat, namun tetap luwes memimpin organisasi. Kita harus memahami nilai kebangsaan dan selalu siap menjadi penggerak utama di tengah masyarakat," ucap Gus Miftah.
Lebih lanjut, sahabat para artis ini juga melihat forum PMKNU sebagai pabrik pencetak tokoh-tokoh besar lintas sektor di masa depan.
"Forum PMKNU ini adalah rahim lahirnya aktivis, politisi ulung, dai, hingga penggerak sosial. Ini adalah jalan bagi lahirnya calon pemimpin nasional dari kultur pesantren yang siap bertarung di level global," bebernya. Kebersamaan ini dinilai sebagai perpaduan "maut."
Baca Juga: Staf PBNU Mangkir, KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji
Gus Yusuf mewakili marwah pesantren dan budayawan, KH Imam Jazuli dengan pemikiran pendidikan modernnya, serta Gus Miftah yang memegang kendali atas massa milenial.
Peristiwa di Cirebon ini menjadi sinyal bahwa nakhoda PBNU masa depan akan diisi oleh sosok-sosok yang tidak hanya pandai berdakwah, tapi juga tertib secara administrasi dan ideologi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







