Profil Mendiang Sabam Sirait, Ayah dari Maruarar Sekaligus Tokoh Nasionalis Besar dan Pendiri PDIP

AKURAT.CO Maruarar Sirait memutuskan untuk meninggalkan PDIP. Saat berpamitan, Maruarar menyatakan bahwa keputusannya keluar dari PDIP adalah untuk mengikuti jejak Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Maruarar Sirait adalah anak dari Sabam Sirait, merupakan politisi yang berkontribusi dalam pembentukan PDIP dan turut menandatangani deklarasi pembentukan PDI serta memiliki hubungan dekat dengan Megawati Soekarnoputri.
Sabam Sirait tutup usia pada tahun 2021 di umur 85 tahun meninggal dunia di RS Siloam Karawaci.
Hingga akhir hayatnya, ia tetap aktif sebagai pejabat publik dan menjabat sebagai anggota DPD RI.
Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (16/1/2024), berikut ini profil Sabam Sirait.
Baca Juga: Profil Maruarar Sirait, Keluar dari PDIP dan Pilih Ikuti Jejak Jokowi
Profil Sabam Sirait
Sabam Gunung Pinangian Sirait lahir pada 13 Oktober 1936 di Pulau Simardan, Tanjungbalai, Sumatera Utara.
Sebelum terjun ke dunia politik, Sabam pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1960, bekerja di bidang administrasi.
Riwayat pekerjaannya mencakup menjadi pegawai administrasi di SMA Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) pada 1957-1958 dan sebagai pegawai di Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Jakarta pada 1958–1960.
Awal karier politiknya dimulai dengan keanggotaan di Partai Kristen Indonesia (Parkindo), ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Parkindo dalam periode 1967-1973.
Sabam, yang pernah dianugerahi Bintang Mahaputera, memiliki pengalaman yang luas di dunia parlemen.
Ia menjadi Anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR) pada periode 1967-1973, Anggota DPR RI pada periode 1973-1982, Anggota DPR RI pada periode 1992-2009, dan Anggota DPR RI pada periode 2019-2024.
Sabam Sirait menjadi deklarator PDI dan PDIP
Sabam memegang peran signifikan dalam sejarah Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Pada tahun 1973, rezim Soeharto atau Orde Baru mengimplementasikan kebijakan fusi partai yang hanya mengakui dua partai, yaitu PPP dan PDI, bersama Golkar.
Partai yang sebelumnya berorientasi Islam bergabung dengan PPP, sementara Parkindo dan partai nasionalis menyatu menjadi PDI.
Sabam, yang menjabat sebagai Sekjen Parkindo, ikut serta sebagai salah satu penggagas deklarasi PDI pada tahun 1973.
Di dalam PDI, Sabam memainkan peran kunci. Ia dipilih tiga kali sebagai Sekjen PDI selama periode 1973-1976, 1976-1981, dan 1981-1986.
Ketika PDI terlibat dalam konflik akibat campur tangan pemerintah Orba, Sabam mendukung Megawati Soekarnoputri.
Pada bulan September 1998, bersama dengan para pendukung Megawati lainnya, Sabam berkontribusi dalam pembentukan PDI Perjuangan (PDIP).
Dalam PDIP, ia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) dari tahun 1998 hingga 2008.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa
- 10MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri







