AKURAT.CO Istana tidak bereaksi keras terhadap pengakuan sejumlah tokoh yang seolah mulai mengungkap bopeng Presiden Jokowi. Pengakuan-pengakuan yang menunjukkan Jokowi arogan bahkan mengintervensi hukum, cukup ditepis dengan bantahan tanpa proses pembuktian melalui pengadilan.
Koordinator Stafsus Presiden Jokowi, Ari Dwipayana, mengulangi jawaban Kepala Negara untuk menepis pengakuan eks Ketua KPK Agus Rahardjo, yang mempertanyakan ada atau tidaknya agenda terselubung di balik munculnya pengakuan-pengakuan yang mengagetkan publik. Sebab, ragam pengakuan muncul seiring proses suksesi.
"Dalam itilah Bapak Presiden, untuk apa diramaikan dan untuk kepentingan apa itu diramaikan," kata Ari, di Jakarta, Senin (4/12/2023).
Baca Juga: Agus Rahardjo Ngaku Diintervensi, Jokowi: Kepentingannya Apa?
Ari menyampaikan itu menimpali pengakuan eks Menteri Agama, Fachrur Razi yang mengaku dicopot dari kabinet, lantaran ogah membubarkan Ormas Front Pembela Islam (FPI). Pernyataan Razi disampaikan dalam acara dialog pada media sosial (medsos).
Sekalipun dicopot, Fachrur mengaku tidak sakit hati, karena masih diapresiasi Jokowi dengan tawaran kursi duta besar. Namun dirinya lebih memilih untuk menolak dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Ari mengingatkan, keputusan membubarkan FPI bukan dilakukan secara sepihak oleh Jokowi, namun dilatari surat keputusan bersama yang diteken Mendagri, Menkumham, Menkominfo, Jaksa Agung, Kapolri, dan Kepala BNPT.
Baca Juga: Dituding Intervensi Kasus Novanto, Jokowi Minta Baca Lagi Berita November 2017
"Jejak digitalnya bisa dicek lagi,” kata Ari, menyinggung SKB 6 kementerian/lembaga berdasarkan rapat di Kantro Kemenko Polhukam, yang digelar 30 Desember 2020.
Sebelumnya, Agus Rahardjo mengaku pernah dipanggil seorang diri ke Istana, dengan kapasitasnya sebagai Ketua KPK, dimarahi dan diminta Jokowi menghentikan kasus korupsi KTP elektronik, Setya Novanto. Agus menyebut, Mensesneg Pratikno mengetahui panggilan itu.
Jokowi membantah pengakuan Agus dengan tidak memberi jawaban benar atau tidak tetapi mengajak kembali membuka dokumentasi pemberitaan pada November 2017. Dia mengingatkan sudah menyampaikan sikap atas kasus tersebut dengan meminta Novanto melaksanakan proses hukum.
Baca Juga: Jokowi Disebut Intervensi Kasus Papa Minta Saham, Istana Sibuk Membantah
Jokowi juga menyinggung, kalau ada intervensi, buktinya Novanto malah divonis tinggi yakni pidana 15 tahun penjara. Kalau Agus dipanggil seorang diri dengan cara tidak wajar, bisa dicek dari agenda di Setneg.
Selebihnya, Jokowi mempertanyakan apa maksud Agus menyampaikan pengakuan itu, dan mengapa pengakuannya diramaikan. Jokowi tidak menyinggung bakal menempuh proses hukum.
"Itu kepentingan apa diramaikan, itu untuk kepentingan apa?" kata Jokowi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









