AKURAT.CO Pemilu 2024 bagi sejumlah kalangan menjadi istimewa lantaran diwarnai rekonsiliasi. Dulu lawan kini menjadi kawan. Situasi ini selalu berulang dalam setiap suksesi, menjadi bukti rekonsiliasi yang digaungkan bukan berkah terselubung.
Peneliti BRIN, Lili Romli menganggap, rekonsiliasi yang digaungkan menjadi semu karena tercipta bukan untuk kepentingan umum (res publica), melainkan berebut kekuasaan. Merapatnya pihak yang dulu berseberangan sebenarnya biasa saja.
“Saya kira mereka mendekat karena faktor kepentingan dan kekuasaan, bukan ajang rekonsiliasi,” kata Romli, di Jakarta, Sabtu (9/9/2023).
Baca Juga: Demokrat Optimis Rekonsiliasi Megawati-SBY Sesuai Harapan
Munculnya istilah rekonsiliasi yang mewarnai perkembangan politik terakhir dimulai ketika Prabowo menerima tawaran Jokowi bergabung dalam kabinet, selepas Pilpres 2019. Belakangan terminologi rekonsiliasi muncul menjelang Pemilu 2024.
Merapatnya para aktivis dan tokoh militer mendukung Prabowo Subianto, peluang bersatunya Megawati-SBY hingga harmoninya relasi PKB-PKS dianggap menjadi indikator, Pemilu 2024 menjadi ajang rekonsiliasi. Romli menganggap argumen tersebut keliru.
Dia menilai perbedaan sikap politik merupakan hal biasa dalam perebutan kekuasaan. Pada masa awal kemerdekaan, beda pilihan politik tidak melunturkan persahabatan di antara para pendiri bangsa.
Baca Juga: Koalisi Besar Sejalan Dengan Ide Rekonsiliasi Partai Gelora
Seharusnya para politisi sekarang ini meneladani karakter para pendiri bangsa, pada praktik percaturan terkini. Pertarungan kekuasaan tak harus berakhir dengan perpecahan yang berkepanjangan, lalu memunculkan istilah rekonsiliasi ketika mereka sudah memiliki kepentingan yang sama.
“Mestinya perbedaan pilihan politik suatu yang biasa. Bukan sesuatu yang hitam-putih, jika masing-masing, betul-betul untuk kepentingan umum, res publica. Bukan hasrat kekuasaan,” tuturnya.
Baca Juga: Dua Pasang Capres Bisa Menjawab Rekonsiliasi Nasional
Istilah rekonsiliasi, kata Romli, terlalu mahal dijadikan jargon dalam perebutan kekuasaan. Dirinya meragukan rekonsiliasi yang digaungkan banyak kalangan belakangan ini sejalan dengan maknanya karena pada dasarnya, mereka hanya berupaya merebut kekuasaan.
“Rekonsilisiasi muncul karena ada kepentingan politik. Mestinya bukan itu, meski ada perbedaan mereka tetap bersahabat, seperti diteladani oleh para pendiri bangsa. Ini bukan kebangsaan tetapi riil politik,” kata dia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








