Akurat Logo

Apa Perbedaan Buta dan Tunanetra? Ini Penjelasan dan Istilah yang Tepat

Redaksi Akurat | 21 Oktober 2026, 15:32 WIB
Apa Perbedaan Buta dan Tunanetra? Ini Penjelasan dan Istilah yang Tepat
Apa Perbedaan Buta dan Tunanetra? Ini Penjelasan dan Istilah yang Tepat

AKURAT.CO Perbedaan buta dan tunanetra kerap menjadi pertanyaan karena kedua istilah tersebut sama-sama berkaitan dengan kondisi penglihatan seseorang.

Dalam percakapan sehari-hari, kata buta sering digunakan untuk menyebut seseorang yang tidak dapat melihat, sedangkan tunanetra lebih banyak digunakan dalam konteks pendidikan dan pembahasan mengenai disabilitas.

Secara harfiah, kedua istilah tersebut memiliki arti yang serupa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan buta sebagai kondisi tidak dapat melihat karena kerusakan mata. Sementara itu, tunanetra juga memiliki arti tidak dapat melihat atau buta.

Meski demikian, dalam konteks disabilitas, tunanetra kerap digunakan sebagai istilah umum yang mencakup orang dengan kebutaan total maupun mereka yang masih memiliki sisa penglihatan atau low vision. Karena itu, memahami konteks penggunaannya penting agar masyarakat tidak keliru dalam menyebut kondisi penglihatan seseorang.

Baca Juga: Pramono Minta Maaf Soal Insiden Tunanetra Jatuh ke Got, Bakal Tegur Direksi Transjakarta

Apa Perbedaan Buta dan Tunanetra?

Perbedaan utama antara buta dan tunanetra terletak pada konteks penggunaannya. Kata buta dapat merujuk pada kondisi tidak dapat melihat, sedangkan tunanetra lazim digunakan untuk menjelaskan seseorang yang mengalami hambatan penglihatan, baik secara total maupun sebagian.

Menurut Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma, kondisi disabilitas penglihatan dapat dibedakan menjadi kebutaan total (blind) dan low vision. Orang dengan low vision masih memiliki kemampuan melihat, tetapi penglihatannya terbatas dan mungkin memerlukan alat bantu untuk menjalankan aktivitas tertentu.

Dengan demikian, tidak semua orang tunanetra kehilangan kemampuan melihat sepenuhnya. Sebagian masih dapat mengenali objek, melihat bentuk atau cahaya, maupun membaca dengan bantuan alat optik dan penyesuaian tertentu.

Pengertian Buta

Berdasarkan KBBI, buta berarti tidak dapat melihat karena kerusakan pada mata. Dalam konteks penglihatan, istilah ini sering dipahami sebagai kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan fungsi penglihatan.

Namun, dalam pembahasan medis dan pendidikan, kondisi kebutaan tidak selalu dapat disimpulkan hanya berdasarkan penyebutan sehari-hari. Tingkat kehilangan penglihatan seseorang dapat berbeda-beda, mulai dari keterbatasan penglihatan hingga kehilangan penglihatan yang sangat berat.

Kata buta juga mempunyai makna kiasan dalam bahasa Indonesia. Contohnya adalah buta hukum, yang berarti tidak memahami hukum, serta buta aksara, yang berarti tidak dapat membaca dan menulis.

Oleh sebab itu, makna kata buta perlu dipahami berdasarkan konteks kalimat yang digunakan.

Pengertian Tunanetra

Tunanetra merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami hambatan atau gangguan pada fungsi penglihatannya. Dalam konteks pendidikan khusus, istilah ini mencakup orang yang mengalami kebutaan total maupun mereka yang masih mempunyai sisa penglihatan.

Kondisi tunanetra dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti membaca tulisan berukuran normal, mengenali objek dari kejauhan, atau berpindah tempat tanpa bantuan. Tingkat kesulitan yang dialami setiap orang berbeda-beda, bergantung pada kondisi penglihatannya dan akses terhadap alat bantu.

Penyandang tunanetra dapat menggunakan beragam sarana untuk mendukung kemandirian, seperti tongkat putih, huruf Braille, pembaca layar pada perangkat digital, serta alat bantu optik bagi mereka yang masih memiliki sisa penglihatan.

Keterbatasan penglihatan tidak dengan sendirinya menentukan kemampuan seseorang dalam belajar, bekerja, atau berpartisipasi di masyarakat. Dukungan aksesibilitas dan lingkungan yang inklusif turut berperan dalam menunjang aktivitas mereka.

Jenis Gangguan Penglihatan pada Tunanetra

Dalam konteks pendidikan khusus, hambatan penglihatan sering dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu buta total dan low vision.

a. Buta Total (Total Blindness)

Buta total merujuk pada kondisi kehilangan penglihatan yang sangat berat. Pada sebagian orang, kemampuan melihat dapat hilang sepenuhnya, sedangkan sebagian lainnya mungkin masih dapat merasakan atau membedakan cahaya.

Kondisi dan kemampuan visual setiap individu dapat berbeda. Karena itu, istilah buta total tidak sebaiknya digunakan untuk menyimpulkan kemampuan seseorang hanya berdasarkan penampilan atau penggunaan alat bantu.

b. Penglihatan Rendah (Low Vision)

Low vision merupakan kondisi ketika seseorang masih memiliki sisa penglihatan, tetapi kemampuan tersebut mengalami keterbatasan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Sebagai contoh, seseorang mungkin masih dapat melihat objek berukuran besar, tetapi kesulitan membaca tulisan kecil. Ada pula orang yang membutuhkan pencahayaan tertentu, pembesaran tulisan, kaca pembesar, atau pengaturan kontras untuk membaca dengan lebih nyaman.

Kebutuhan alat bantu pada orang dengan low vision tidak selalu sama. Penanganan dan dukungan yang dibutuhkan bergantung pada kondisi penglihatan masing-masing individu.

Perlu dipahami bahwa klasifikasi dalam pendidikan khusus tidak sepenuhnya menggantikan pemeriksaan medis. Penilaian kondisi penglihatan sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan mata yang kompeten.

Istilah Mana yang Lebih Tepat Digunakan?

Untuk pembahasan formal mengenai disabilitas, istilah tunanetra atau penyandang disabilitas netra dapat digunakan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menggolongkan disabilitas netra sebagai bagian dari disabilitas sensorik.

Penggunaan istilah tersebut dapat membantu pembahasan menjadi lebih spesifik, terutama ketika artikel membahas hak, aksesibilitas, pendidikan, pekerjaan, atau pelayanan publik bagi penyandang disabilitas.

Sementara itu, kata buta tetap memiliki tempat dalam bahasa Indonesia, termasuk ketika menjelaskan kebutaan sebagai kondisi penglihatan atau ketika membahas makna kiasan suatu ungkapan. Jadi, tidak tepat jika semua penggunaan kata buta dianggap salah secara otomatis.

Dalam menyebut seseorang, penulis sebaiknya mengutamakan istilah yang tidak merendahkan martabat dan, jika memungkinkan, mengikuti pilihan penyebutan yang digunakan oleh orang tersebut.

Sebagai contoh, penulis dapat menggunakan frasa "penyandang disabilitas netra" atau "orang tunanetra" ketika membahas seseorang yang mengalami hambatan penglihatan. Hindari menggunakan kondisi disabilitas sebagai bahan ejekan atau menganggap bahwa semua penyandang tunanetra memiliki kemampuan dan kebutuhan yang sama.

Baca Juga: Kolaborasi dengan Gubernur DKI Jakarta, Raja IT Bantu Tunanetra dan Marbot di Jaktim

Mengapa Pemahaman tentang Tunanetra Penting?

Pemahaman mengenai disabilitas netra membantu masyarakat mengenali bahwa hambatan penglihatan memiliki tingkat dan kebutuhan yang beragam. Pemahaman ini juga penting untuk mendukung aksesibilitas di lingkungan pendidikan, tempat kerja, transportasi, dan pelayanan publik.

Contohnya, penyedia layanan dapat menyediakan informasi dalam format Braille, dokumen digital yang kompatibel dengan pembaca layar, petunjuk arah yang mudah dikenali, serta akses yang aman bagi pengguna tongkat putih.

Di bidang pendidikan, penyesuaian dapat berupa penggunaan bahan bacaan dengan huruf berukuran besar, materi digital yang dapat dibaca perangkat bantu, atau metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan alat bantu, tetapi juga dengan sikap masyarakat. Memberikan kesempatan yang setara, menghormati kemandirian, dan tidak berasumsi mengenai kemampuan seseorang merupakan bagian penting dari lingkungan yang inklusif.

Buta dan tunanetra merupakan dua istilah yang berkaitan erat dengan kondisi penglihatan dan memiliki arti yang serupa dalam KBBI. Namun, dalam konteks pendidikan dan disabilitas, tunanetra lazim digunakan sebagai istilah umum untuk orang yang mengalami hambatan penglihatan, baik buta total maupun low vision.

Sementara itu, kata buta dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi tidak dapat melihat atau dalam makna kiasan, seperti buta aksara dan buta hukum. Untuk pembahasan formal mengenai disabilitas, istilah tunanetra atau penyandang disabilitas netra dapat menjadi pilihan yang sesuai.

Hal terpenting adalah menggunakan istilah berdasarkan konteks, tidak merendahkan orang lain, dan memahami bahwa setiap penyandang disabilitas netra memiliki kondisi serta kebutuhan yang dapat berbeda.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R