UI Kukuhkan Prof. Sotya Astutiningsih sebagai Guru Besar Material Konstruksi Ramah Lingkungan

AKURAT.CO Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Sotya Astutiningsih, M.Eng. sebagai Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan, di Balai Sidang UI, Rabu (11/2/2026).
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Sotya menyoroti lonjakan populasi dunia yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan perumahan dan infrastruktur.
Kondisi tersebut berpotensi menekan sumber daya alam apabila tidak diimbangi dengan inovasi material yang berkelanjutan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Salah satu pendekatan kunci yang ditawarkan adalah pemanfaatan bahan baku sekunder, yakni material hasil samping atau limbah yang dimanfaatkan kembali dalam proses produksi lain.
Salah satu contohnya adalah limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
“UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland maupun sebagai bahan dasar semen geopolimer,” ujar Prof. Sotya.
Ia mengungkapkan, lebih dari 75 persen bahan geopolimer dapat berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak.
Baca Juga: IPNM Tumbuh 5,30 Persen di 2025, Kemenperin Genjot Hilirisasi Agro
Selain lebih ramah lingkungan, material ini juga lebih efisien karena sudah berbentuk serbuk halus sehingga tidak memerlukan proses penggilingan tambahan.
Selain abu terbang, terak feronikel dari proses pengolahan bijih nikel dinilai sangat prospektif sebagai agregat beton.
Riset di Fakultas Teknik UI menunjukkan bahwa mortar dan beton berbahan terak feronikel memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan beton berbahan pasir biasa maupun pasir kuarsa.
Tim peneliti FTUI juga mengembangkan formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus. Sementara itu, terak feronikel dari proses RKEF di PT Aneka Tambang dimanfaatkan sebagai agregat.
Hasil riset ini telah menghasilkan sejumlah paten dan diuji coba pada produk beton pracetak bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.
Inovasi lainnya adalah pemanfaatan cangkang kelapa sawit (palm kernel shell/CKS) sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton.
Kajian yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menunjukkan bahwa beton berbahan CKS memiliki karakteristik kekuatan dan pola keruntuhan yang mirip beton konvensional, namun lebih ulet dan berpotensi lebih tahan gempa.
Menurut Prof. Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder tidak hanya mengurangi limbah industri dan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan material konstruksi nasional.
Penelitian tersebut menjadi bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah ia kembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah publikasi ilmiahnya memperkuat arah riset tersebut, antara lain studi perbandingan daur hidup agregat alami, daur ulang, dan cangkang sawit (2025), karakteristik mekanis serat tandan kosong kelapa sawit sebagai pengganti agregat halus (2024), serta analisis balok beton bertulang berbasis terak feronikel (2024).
Sebelum dikukuhkan sebagai guru besar, Prof. Sotya meraih gelar Sarjana Teknik dari FTUI (1991), M.Eng. in Metallurgy dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia (1994), dan Ph.D in Materials Engineering dari The University of Western Australia (2005).
Baca Juga: Mudik Gratis Lebaran 2026 Rute Jakarta–Jawa Tengah, Ini Syarat yang Perlu Disiapkan
Saat ini, ia menjabat Kepala Laboratorium Fisika Material FTUI periode 2021–2026 serta Anggota Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia periode 2024–2027.
Pengukuhan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh industri, di antaranya Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Dr. Eng. Aditya Farhan Arif, Komisaris PT Len Industri (Persero) Mayjen (Purn) Arkamelvi Karmani, VP Research and Development PT Nindya Karya (Persero) Arum Sari Trihadiningsih, serta Direktur Operasi dan Produksi PT Perminas (Persero) Oktoria Masniari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 9Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra
- 10Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla








