Ini Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Saat Menghadapi Anak Tantrum

AKURAT.CO Tantrum atau dalam istilah psikologinya disebut sebagai 'temper tantrum', diartikan sebagai perilaku marah dari anak-anak yang biasanya dilakukan oleh anak di usia 2-3 tahun.
Tantrum terjadi karena anak-anak pada usia tersebut belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kesal, karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Mereka mengekspresikan kekesalannya dengan berbaring di lantai, menendang, berteriak dan kadang-kadang menahan napas. Bahaya memang!
Bahkan ada juga anak yang tantrum dengan cara menangis hingga meraung-raung, supaya keinginannya terpenuhi. Itu adalah gejala tantrum manipulatif.
Psikolog Anak sekaligus Penulis, Samantha Elsener melalui akun Instgramnya @samantha.elsener memberikan tips yakni apa saja yang bisa dilakukan orangtua saat anak alami tantrum.
"Namanya emosinya lagi mendadak meningkat ke level tertinggi, kalau dipaksa/bentak/marahin malah makin jerit anaknya lho karena merasa makin tidak dipahami," tulis Samantha di keterangan unggahannya, dikutip pada Jumat (07/01).
"First of all, ketahui dulu apa alasan anak tantrum, ya. Bisa jadi anak sedang lapar, kelelahan, tidak nyaman atau sedang cari perhatian," sambungnya.
Samantah menambahkan, merespon anak yang lagi tantrum memang perlu kiat khusus dan ekstra sabar. Oleh karena itu, Samantha memberikan tips apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat anak sedang tantrum.
Hal yang boleh dilakukan saat anak tantrum
- Tetap tenang, jangan panik.
- Ajarkan anak mengenal emosinya, seperti apakah sedang marah, sedih atau kecewa.
- Peluk anak, sebelum anak makin histeris. Jika anak tidak mau dipeluk maka tunggu anak sampai tenang dan mau dipeulk.
- Amankan anak-anak dati benda berbahaya disekitarnya, misalnya benda tajam, benda dengan daya listrik dan ujung-ujung furnitur yang tajam.
Hal yang tidak boleh dilakukan saat anak tantrum
- Ikut marah dan teriak, karena ini membuat anak makin histeris.
- Mengabaikan emosi anak, ini bisa membuat anak semakin tantrum.
- Pakai kekerasan, seperti mencubit, memukul atau kata-kata kasar disertai bentakan. Sebab, bisa membuat anak trauma.
- Berbohong pada anak, seperti diiming-imingi sesuatu yang disukai anak atau ditakuti-takuti dengan hal yang ditakuti anak.
Apabila, orang tua ikut menjadi gampang panik atau melakukan kekerasan saat menghadapi anak yang tantrum, segera konsultasi psikolog keluarga atau psikatri di rumah sakit terdekat untuk diobservasi lebih lanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




