Akurat Logo

Cegah Tawuran Pelajar: Pentingnya Dialog dan Aktivitas Positif untuk Remaja

Arief Rachman | 23 September 2024, 23:45 WIB
Cegah Tawuran Pelajar: Pentingnya Dialog dan Aktivitas Positif untuk Remaja

AKURAT.CO Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, mengingatkan orang tua dan guru untuk secara aktif membuka dialog dengan remaja guna menghindari keterlibatan dalam kegiatan negatif seperti tawuran.

Novi menyarankan agar orang tua dan pendidik menciptakan banyak kesempatan untuk berbicara dengan remaja di rumah dan sekolah.

Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kesadaran diri dan kemampuan membuat keputusan yang lebih baik, serta mencegah pengaruh negatif.

"Fasilitasi ruang dialog sebanyak mungkin bagi para remaja, baik di rumah maupun sekolah sehingga mereka punya kemampuan memunculkan kesadaran diri dalam mengambil keputusan apapun tanpa mudah terpengaruh, terutama hal-hal negatif," ujar Novi, Senin (23/9/2024).

Baca Juga: Pramono Anung-Rano Karno Berkomitmen Jadikan Jakarta 'Menyala' dan Bebas Ribet

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak penting untuk memahami perasaan, keinginan, dan hasrat remaja, sehingga mereka bisa diarahkan ke kegiatan positif.

Belakangan, tawuran pelajar semakin sering terjadi.

Contohnya, pada Minggu (22/9/2024), tujuh jasad ditemukan di Kali Bekasi diduga akibat tawuran, dan pada Senin (23/9/2024), delapan pelajar diamankan oleh Polres Metro Tangerang Kota karena hendak melakukan tawuran dengan senjata tajam.

Novi menekankan bahwa remaja memerlukan saluran untuk kekuatan fisik mereka, seperti melalui olahraga atau bela diri.

Dia juga menganjurkan agar orang tua mendorong anak-anak memiliki hobi yang bermanfaat dan terlibat dalam kegiatan sosial untuk mengembangkan empati dan kepekaan sosial.

Baca Juga: Dharma Pongrekun: Adab adalah Fondasi Pemerintahan yang Baik

Dengan membuka ruang bagi remaja untuk menemukan kekuatan dan minat mereka, serta menyediakan aktivitas yang positif, diharapkan mereka bisa merasa lebih berarti dan terhindar dari perilaku negatif.

"Buka ruang sebesar-besarnya anak remaja menemukan siapa dirinya, kekuatannya, passion-nya agar mereka merasa bermakna. Pada anak yang memang membutuhkan saluran kekuatan fisik atau potensi memimpin, maka perlu disalurkan atau difasilitasi," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.