Mobil Listrik Semakin Populer, Tapi Nilai Jual Kembali Masih Jadi Tantangan

AKURAT.CO Mobil listrik (EV) semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perkembangan teknologi baterai dan fitur pintar membuat kendaraan listrik semakin menarik bagi konsumen.
Namun di balik kemajuan tersebut, muncul sejumlah kekhawatiran baru. Dua isu yang mulai sering dibahas adalah nilai jual kembali (resale value) serta biaya servis kendaraan listrik.
Nilai jual kembali masih jadi tantangan
Salah satu tantangan EV saat ini adalah depresiasi harga yang cukup cepat. Sejumlah laporan pasar menunjukkan mobil listrik dapat kehilangan lebih dari 50 persen nilainya dalam lima tahun, lebih tinggi dibanding mobil berbahan bakar bensin.
Dikutip dari Autoblog, Jumat (6/3/2026), ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Teknologi cepat berubah: model baru biasanya hadir dengan jarak tempuh lebih jauh dan baterai lebih efisien.
2. Kekhawatiran kesehatan baterai pada mobil bekas.
3. Pasokan EV bekas meningkat karena penjualan mobil listrik baru naik dalam beberapa tahun terakhir.
Akibatnya, sebagian konsumen masih berhati-hati ketika mempertimbangkan pembelian mobil listrik bekas. Kekhawatiran ini terutama berkaitan dengan nilai jual kembali serta kondisi baterai kendaraan, sebagaimana dikutip dari Cox Automotive Europe.
Baca Juga: Huawei Tampilkan Tiga Keunggulan Transpor Jaringan 5G-A sebagai Fondasi Evolusi 6G
Biaya servis sebenarnya lebih rendah
Di sisi lain, EV memiliki keunggulan dalam hal perawatan. Mobil listrik memiliki komponen mekanis yang lebih sedikit dibanding mobil berbahan bakar bensin sehingga kebutuhan servisnya relatif lebih sederhana.
Hal ini membuat perawatan kendaraan listrik cenderung lebih praktis bagi pemiliknya. Perawatan umumnya hanya meliputi:
- Pengecekan baterai
- Sistem pendingin
- Rem dan ban
- Pembaruan perangkat lunak
Beberapa analisis menunjukkan biaya perawatan mobil listrik bisa lebih murah hingga puluhan persen dalam beberapa tahun penggunaan. Hal ini karena EV tidak memerlukan penggantian oli atau banyak komponen mesin konvensional seperti kendaraan berbahan bakar bensin.
Namun biaya dapat meningkat jika terjadi kerusakan pada baterai. Komponen ini masih menjadi bagian paling mahal dari kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, mobil listrik menawarkan biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah dibanding mobil konvensional.
Namun, nilai jual kembali masih menjadi tantangan di banyak pasar karena teknologi baterai terus berkembang dan model baru terus bermunculan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah




