Serat Napolyun: Napoleon Bonaparte dalam Cermin Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono VI

DI antara ribuan naskah yang tersimpan di lingkungan Keraton Yogyakarta, ada satu karya yang terdengar tidak lazim untuk ukuran sastra Jawa klasik: kisah tentang seorang kaisar Prancis, ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa.
Serat Napolyun - dikenal pula sebagai Serat Napuliyun atau Serat Napoleon Bonaparte - adalah karya Sultan Hamengkubuwono VI yang merekam bagaimana istana Jawa abad ke-19 memandang sosok Napoleon Bonaparte sebagai teladan kepemimpinan.
Naskah ini menarik dibaca ulang hari ini, bukan sekadar sebagai dokumen sastra, tetapi sebagai jendela untuk memahami gagasan kepemimpinan sang Sultan sendiri.
Biografi Sultan Hamengkubuwono VI
Sultan Hamengkubuwono VI, lahir dengan nama Gusti Raden Mas Mustojo pada 10 Agustus 1821, naik takhta Kesultanan Yogyakarta pada 1855 menggantikan kakaknya, Hamengkubuwono V, yang wafat mendadak tanpa pewaris laki-laki yang siap.
Sebelum menjadi raja, ia dikenal sebagai perwira militer Hindia Belanda berpangkat kolonel - latar belakang yang turut membentuk caranya memandang kekuasaan dan peperangan. Semasa mudanya, ia bahkan dikenal sebagai penentang keras kebijakan kooperatif kakaknya terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Namun begitu naik takhta, ia justru melanjutkan garis kebijakan akomodatif tersebut, meski dengan sikap yang tidak sepenuhnya patuh dan penuh kehati-hatian.
Masa pemerintahannya (1855-1877) diwarnai sejumlah peristiwa besar: gempa bumi dahsyat pada 1867 yang meluluhlantakkan sebagian Keraton, Tamansari, dan Masjid Gedhe Kauman; perluasan jejaring diplomatik lewat pernikahan dengan keluarga Kesultanan Brunei; serta hubungan yang kian tegang dengan pemerintah Hindia Belanda karena kedekatan Yogyakarta dengan pihak-pihak yang dipandang "musuh" oleh Belanda.
HB VI juga dikenal sebagai pelindung kesenian dan penulis sejumlah karya sastra istana, salah satunya Serat Napolyun.
Dunia yang Sedang Bergolak
Ketika HB VI memerintah, dunia sedang berubah cepat. Di Eropa, bayang-bayang Napoleon Bonaparte - yang wafat pada 1821, tahun kelahiran sang Sultan - masih menghantui imajinasi politik banyak bangsa, sementara keponakannya, Napoleon III, berkuasa di Prancis (1852–1870) dan berambisi menghidupkan kembali kejayaan pamannya.
Revolusi industri mempercepat ekspansi kolonial Eropa ke Asia dan Afrika; Terusan Suez dibuka pada 1869 dan memangkas jarak pelayaran Eropa–Asia; sementara di seberang Pasifik, Jepang memasuki era Restorasi Meiji (1868) yang mengubahnya dari negeri tertutup menjadi kekuatan modern.
Di Hindia Belanda sendiri, sistem tanam paksa (cultuurstelsel) masih mencengkeram perekonomian rakyat, sementara babak baru politik kolonial - liberalisasi ekonomi lewat Undang-Undang Agraria 1870 - baru dimulai menjelang akhir masa pemerintahan HB VI. Trauma Perang Diponegoro (1825–1830) juga masih membekas: Yogyakarta kehilangan sebagian besar kedaulatan politiknya dan terjepit di antara kewajiban seremonial kepada Belanda serta tuntutan menjaga wibawa sebagai pewaris takhta Mataram.
Dalam situasi itulah istana Yogyakarta, lewat sastra, mencoba mencerna makna kekuasaan, kejayaan, dan kejatuhan lewat kisah seorang penakluk dari benua lain.
Isi dan Makna Serat Napolyun
Menurut sejumlah kajian filologi atas naskah ini - antara lain oleh sejarawan Djoko Marihandono dari Universitas Indonesia - Serat Napolyun menampilkan sosok Napoleon sebagai figur yang dikagumi: pemberani, gigih, dan penuh semangat juang, seorang yang bangkit dari kalangan biasa untuk menaklukkan hampir seluruh Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 5Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara





