Akurat Logo

5 Watak Sejati Manusia menurut Meng Zi, Filsuf Aliran Konfusianisme

| 21 Januari 2020, 05:45 WIB
5 Watak Sejati Manusia menurut Meng Zi, Filsuf Aliran Konfusianisme

AKURAT.CO, Meng Zi atau Mensius (372-289 SM) merupakan salah satu filsuf China yang amat diperhitungkan. Ia dikenal dengan gagasan bahwa sifat manusia pada dasarnya baik, sehingga tidak rela melihat orang lain menderita.

Belajar kepada filsuf Zisi (dikenal pula sebagai Kong Ji) yang tak lain cucu Kong Hu Cu, Meng Zi menjadi penerus ajaran Konghucu atau konfusianisme, yakni filsafat China yang berfokus pada peningkatan moral dan etika manusia.

Makna dari Meng Zi adalah Master Meng. Konon, nama panjangnya adalah Meng Ke. Namun, sejak abad kedua, namanya mulai disingkat oleh para penulis menjadi Meng saja. Sedangkan Zi (master) adalah julukan penghormatan atas keluasan ilmunya. Di dunia Barat, dia dikenal dengan nama Mencius.

Meng Zi berasal dari Zou/Zouxian, yang saat ini bernama Zoucheng di Provinsi Shandong. Dia hidup di masa yang dikenal Warring States (476-221 SM). Selama periode ini, terdapat puluhan negara bagian yang saling berperang, tetapi kemudian hanya tersisa tujuh negara besar, yakni Qin (meliputi Shaanxi), Chu (meliputi Hunan dan Hubei), Han (meliputi Shanxi), Qi (meliputi Shandong), Zhao (meliputi Hebei, Mongolia Dalam, dan Shanxi), Wei (meliputi Henan), dan Yan (meliputi Hebei). Pada akhirnya, Qin mampu mengalahkan negara bagian lainnya yang diikuti deklarasi kekaisaran China bersatu di bawah Dinasti Qin.

Sebagian besar hidup sang master digunakan untuk berkeliling negeri demi menawarkan nasihat tentang pemerintahan berbasis kemanusiaan. Dia sempat beberapa kali melayani penguasa dari negara bagian berbeda. Namun, sebagian besar penguasa lebih mengedepankan saran penguatan negara dari sisi hukum atau militer.

Gagasan Mengzi Tentang Pemerintahan

Dalam tulisan berjudul "Mengzi" di situs ChinaKnowledge.de (An Encyclopaedia on Chinese History, Literature, and Art), dipaparkan begitu banyak gagasannya soal pemerintahan. Di mata Meng Zi, seorang penguasa harus bisa mengkritik/mencela dirinya sendiri dan menempatkan dirinya sebagai pelayan bagi rakyatnya. Seolah tak bisa ditawar, bagi Meng Zi, kepedulian terhadap rakyat adalah hal yang paling penting dalam agenda seorang penguasa.

"Pemerintah yang baik hati adalah Jalan Raja yang sebenarnya, yang diwujudkan dalam pajak rendah, penghematan dalam gaya hidup, dan minim menggunakan hukuman. Penguasa harus memproduksi gandum yang cukup sehingga warga dapat melayani orang tua mereka dan memelihara keluarga mereka untuk dapat menjalani kehidupan yang bahagia," tulis situs ChinaKnowledge.de yang diampu Ulrich Theobald, dosen senior Departemen Studi China di Universitas Tubingen, Jerman.

Meng Zi mendasarkan teori ‘manusia kodratnya baik’ pada argumen, jika ada anak kecil terjatuh ke dalam sumur, maka kita tergerak untuk menolong tanpa menghiraukan siapa anak kecil itu.

Sedangkan jika seseorang berbuat buruk/jahat, disebabkan antara lain oleh tiga keadaan. Pertama, pengaruh lingkungan sosial. Pandangan ini mungkin tak lepas dari masa kecil Meng Zi bersama ibunya yang pernah berpindah-pindah rumah. Anak yang yatim sejak umur 3 tahun ini pernah pindah ke lingkungan dekat makam, namun ibunya khawatir dia menirukan suasana orang-orang di pemakaman.

Dia juga pernah tinggal di dekat pasar, namun sang ibu lagi-lagi mengkhawatirkan putranya mencontoh aktivitas orang-orang bertransaksi. Lingkungan bisa menjadi cerminan mengapa kita menganggap sebuah kejahatan sebagai hal yang tidak biasa atau biasa saja.

Kedua, menyangkal kodrat. Pada satu titik, kita bisa memandang diri negatif dan tak berharga sehingga menjauhi bahkan sampai asing pada kebaikan. Ketiga, kurang refleksi diri. Jauh dari kebaikan juga bisa disebabkan kita tidak mengenali nilai-nilai positif dalam diri.

5 Watak Sejati ala Mengzi

Master Meng lalu merumuskan 5 Watak Sejati (Xing) manusia yang merupakan anugerah dari Tian (langit), seperti dituturkan Fahruddin Faiz dalam ngaji filsafat edisi Meng Zi berikut.

1. Cinta kasih (Ren)

Kasih sayang merupakan salah satu sifat alamiah manusia. Maka apa saja yang bernegasi dari cinta kasih, seperti kemarahan, kebencian, dan sebagainya dianggap menabrak kodrat.

“Makanya kalau lihat fenomena cinta kasih, saling membantu, itu kan rasanya indah untuk dilihat. Kenapa? Karena itu manusiawi,” ujar Fahruddin Faiz.

2. Kebenaran (Yi)

Boleh dibilang, berada dalam kebenaran adalah kebutuhan tiap manusia, sebab dalam kebenaran, seseorang dapat merasakan ketenangan. Semua orang ingin selalu di jalan benar bahkan sampai ingin selalu dianggap benar. Itulah sebabnya kita suka mencari-cari alasan pembenaran, karena kita tidak mau dianggap salah.

“Nggak ada orang yang ingin nggak benar. Kadang, sudah jelas nggak benar tapi masih ingin disebut benar. Kalau ada orang salah, itu kan tidak indah dilihat,” tambah Fahruddin Faiz.

3. Kesusilaan (Li)

Orang yang baik budi bahasanya serta bisa memosisikan diri di hadapan orang lain alias tahu adab akan disukai, sebab itu selaras dengan jiwa alamiah manusia.

“Kamu kan nggak nyaman melihat orang nggak sopan, nggak suka lihat orang tidak bermoral. Karena kita punya watak kesusilaan,” terang Fahruddin lagi.

4. Bijaksana (Ti)

Bijaksana bisa diartikan merancang keputusan secara pas ruang dan waktu. Setiap orang pada dasarnya selalu ingin hidupnya pas, tidak berat di satu sisi, keputusannya cocok, ingin pilihan hidupnya sesuai kondisi. Itulah pertanda bahwa setiap orang mengejar kebijaksanaan.

“Kalau ada temanmu uangnya sudah menipis, tapi kok dia masih hura-hura, beli makan di warung mahal, itu kan kita melihatnya tidak nyaman. Kenapa? Karena tidak cocok dengan tuntutan jiwa kita untuk bijaksana,” paparnya lagi.

5. Dapat dipercaya (Xin)

Dewasa ini, ada yang menyebut kepercayaan adalah barang mahal. Hal ini tak lepas dari realita tentang orang-orang yang menyelewengkan amanah, misalnya penipuan oleh agensi umrah yang mengorbankan puluhan ribu jemaah.

Fenomena tersebut, selain membuat rasa saling percaya antarsesama menipis, juga menimbulkan amarah dari khalayak. Sebab, menyelewengkan amanah adalah hal yang menabrak sifat alamiah manusia.

“Kalau ada orang yang dapat dipercaya itu kan kita senang dan cenderung padanya, karena sesuai watak sejati manusia,” tutur Fahruddin.

Bagi Meng Zi, kelima 'anugerah langit' di atas ini mesti dipupuk hingga menjadi karakter bagi setiap orang, terutama bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi yakni para penguasa negara. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.