Akurat Logo

Bukan Sekadar Pameran, IISE 2026 dari BRIN Siapkan Business Matching Periset, Investor, dan Industri

Idham Nur Indrajaya | 12 Oktober 2026, 19:25 WIB
Bukan Sekadar Pameran, IISE 2026 dari BRIN Siapkan Business Matching Periset, Investor, dan Industri
Konferensi Pers Perkembangan Persiapan Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 - dok. BRIN

AKURAT.CO Hasil riset bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan, tetapi belum tentu berakhir menjadi produk yang digunakan masyarakat. Di sisi lain, industri membutuhkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan produk baru, sementara investor mencari inovasi yang layak dikembangkan secara bisnis. Kesenjangan inilah yang ingin dijembatani melalui Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Sukses Mulya Pratama selaku promotor menyiapkan IISE 2026 sebagai ruang pertemuan periset, inventor, investor, perusahaan, dan calon pengguna teknologi. Berbeda dari pameran yang hanya menampilkan produk, acara ini dirancang untuk membuka peluang business matching, kerja sama pengembangan teknologi, lisensi, hingga investasi.

Ketua Penyelenggara IISE 2026, Walneg, menyebut kegiatan ini sebagai salah satu upaya mengatasi the valley of death, yakni kesenjangan antara riset dan inovasi dengan kebutuhan industri serta pasar. Penyelenggara juga menargetkan 100 perjanjian lisensi baru hingga Desember 2026.

Secara keseluruhan, IISE 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Desember 2026 di Hall 7 dan 8, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Acara ini akan menghadirkan 230 stan pameran dan sekitar 200 atau lebih produk inovasi unggulan BRIN.

Apa Itu IISE 2026 dan Bagaimana Business Matching Direncanakan?

IISE 2026 merupakan pengembangan dari Indonesia Research and Innovation Expo (InaRI Expo) yang sebelumnya diselenggarakan BRIN. Melalui format baru ini, penyelenggara ingin membangun ekosistem yang menghubungkan kegiatan penelitian dengan kebutuhan nyata di dunia usaha dan masyarakat.

Walneg menjelaskan, IISE tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang diseminasi hasil penelitian atau pameran teknologi. Acara ini juga dirancang untuk mempertemukan pihak yang memiliki inovasi dengan pihak yang membutuhkan, mengembangkan, atau mendanai teknologi tersebut.

"Inilah yang kami maksud dengan matchmaking. Kami ingin menciptakan pertemuan yang mempertemukan kebutuhan dengan solusi, bukan sekadar mempertemukan orang dalam sebuah acara," ujar Walneg dalam paparannya di acara Press Conference Perkembangan Persiapan Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Baca Juga: Riset Evident: Wamen dan Waka Badan Tak Sekadar Ban Serep

Baca Juga: Kemensos Gunakan Riset dan Inovasi BRIN untuk Perkuat Program Sekolah Rakyat

Konsep tersebut menjadi penting karena kebutuhan setiap peserta berbeda. Sebuah perusahaan mungkin mencari teknologi untuk meningkatkan proses produksi, sedangkan startup membutuhkan akses terhadap hasil penelitian yang dapat dikembangkan menjadi produk komersial.

Di sisi lain, periset membutuhkan mitra yang dapat membantu menguji, memproduksi, melisensikan, atau memasarkan temuannya. Investor juga dapat mencari inovasi yang sesuai dengan strategi pendanaan mereka.

Melalui business matching, pertemuan diharapkan lebih terarah berdasarkan kebutuhan dan potensi kerja sama, bukan hanya berlangsung secara kebetulan di area pameran.

Menurut Walneg, penyelenggara juga merencanakan aplikasi atau situs web untuk membantu calon pengunjung menyampaikan tujuan kedatangan, teknologi yang dicari, serta pihak yang ingin ditemui. Platform tersebut diharapkan dapat membantu mengatur pertemuan dengan pihak yang relevan selama acara berlangsung.

Rencana itu masih dalam tahap pengembangan. Karena itu, mekanisme final, ketersediaan layanan, dan pelaksanaan pertemuan perlu mengikuti informasi resmi penyelenggara.

Mengapa Hasil Riset Belum Tentu Bisa Masuk ke Pasar?

Persoalan yang ingin diatasi IISE 2026 bukan semata-mata kurangnya publikasi atau promosi hasil penelitian. Menurut Walneg, ada beberapa penyebab yang membuat hasil riset belum sepenuhnya dimanfaatkan industri.

Pertama, tidak semua penelitian sejak awal diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar. Sebagian riset memang bertujuan memperdalam ilmu pengetahuan atau menghasilkan kebaruan teknologi. Namun, temuan ilmiah tersebut belum tentu langsung sesuai dengan kebutuhan pengguna atau memiliki jalur pengembangan menuju produk komersial.

Kedua, industri belum sepenuhnya menjadikan riset sebagai dasar pengembangan produk. Walneg menilai pengembangan produk yang berbasis penelitian berpotensi lebih efisien, lebih berdaya guna, dan lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan yang hanya mengandalkan uji coba tanpa landasan riset yang memadai.

Ketiga, hasil penelitian belum selalu terhubung dengan investor. Pengembangan teknologi membutuhkan pembiayaan, sedangkan kemampuan pendanaan periset memiliki keterbatasan. Kebutuhan dana juga dapat meningkat ketika suatu teknologi harus melewati tahapan pengujian, penyempurnaan, dan persiapan produksi.

Walneg menjelaskan bahwa kesenjangan tersebut membuat dunia riset dan industri berisiko berjalan sendiri-sendiri. Periset terus menghasilkan pengetahuan dan invensi, sementara perusahaan mencari solusi untuk kebutuhan bisnisnya tanpa selalu mengetahui bahwa teknologi yang relevan mungkin sudah tersedia di lembaga penelitian.

"Pada prinsipnya, tujuan utama riset dan inovasi adalah menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan solusi yang memberikan manfaat nyata," kata Walneg.

Pernyataan tersebut menjelaskan arah yang ingin dicapai melalui IISE 2026. Tantangannya bukan hanya memperkenalkan teknologi kepada sebanyak mungkin orang, tetapi juga menemukan pihak yang tepat untuk melanjutkan pengembangannya.

Dalam proses tersebut, tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) menjadi salah satu aspek yang relevan untuk diperhatikan. Teknologi yang masih membutuhkan pengujian tentu memiliki kebutuhan berbeda dari produk yang sudah siap diproduksi atau digunakan oleh konsumen.

Artinya, pertemuan antara periset dan industri perlu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kesiapan teknologi, kebutuhan teknis, pembiayaan, serta kemungkinan penerapannya. Pameran dapat membuka pintu kerja sama, tetapi proses pengembangan berikutnya tetap membutuhkan keputusan bisnis dan teknis dari pihak-pihak yang terlibat.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.