Pasokan Sawit Hadapi Tekanan Ganda, GAPKI Ajak India Perkuat Kemitraan

AKURAT.CO Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan pasokan minyak sawit Indonesia pada 2027 akan tertekan dari dua arah. Yakni naiknya konsumsi domestik akibat program biodiesel B50, dan turunnya produksi akibat El Nino.
Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional, dengan target cakupan penuh pada 1 Oktober 2026. Mandat ini diproyeksikan menyerap 15,2–16,3 juta ton CPO per tahun, sehingga surplus untuk ekspor makin ketat.
Di sisi tata kelola, lima produk sawit kini wajib diekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), dengan implementasi penuh mulai 1 Januari 2027. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan kebijakan ini bukan pembatasan perdagangan.
Baca Juga: Astra Agro Siapkan Capex Rp1,4 Triliun untuk Replanting Sawit 2027
"Kebijakan ini bukan pembatasan perdagangan, melainkan restrukturisasi tata kelola ekspor: volume perdagangan tetap mengalir, hanya mekanismenya yang berubah," kata Eddy dalam opening remarks GlobOil India 2026, Rabu (30/9/2026).
Sementara itu, kekeringan akibat El Nino di Sumatera dan Kalimantan membuat GAPKI memproyeksikan produksi 2027 turun 2,9 persen menjadi sekitar 56,8 juta ton. Untuk itu, GAPKI juga membuka kerja sama peningkatan produktivitas sawit dengan India.
Indonesia memasok hampir separuh kebutuhan sawit India. Pada triwulan I-2026, ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 988 ribu ton, naik 28 persen secara tahunan.
GAPKI menyambut baik keputusan India menurunkan bea masuk dasar CPO dari 10 persen menjadi 5 persen mulai 24 September 2026, dan memperkirakan India masih membutuhkan impor sawit sekitar 7–8 juta ton per tahun hingga 2030.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Energi, Wamenlu Ungkap Strategi RI Dorong Biodiesel Sawit
Kerja sama ini juga melanjutkan nota kesepahaman dengan Solvent Extractors' Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang ditandatangani pada GlobOil 2025, serta perjanjian baru dengan Indian Vegetable Oil Producers' Association (IVPA).
Sementara itu, Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, mengatakan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (I-EU CEPA) memberikan kuota ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa dengan bea masuk 0 persen serta bebas bea keluar dan pungutan ekspor. Kuota dimulai dari 1,9 juta ton dan naik 3 persen per tahun selama sembilan tahun.
"Namun, pemanfaatan peluang tersebut bergantung pada kesiapan industri memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR), terutama ketertelusuran kebun petani kecil dan penyelarasan ISPO dengan sistem verifikasi Uni Eropa," kata Fadhil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 5Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 6Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen







