Akurat Logo

BMKG Ingatkan Pemerintah Waspada Global Warming

| 8 Agustus 2021, 07:02 WIB
BMKG Ingatkan Pemerintah Waspada Global Warming

AKURAT.CO, Lembaga meteorologi dunia (WMO) merilis fakta bahwa suhu Bumi pada tahun 2020 menjadi salah satu dari 3 tahun terpanas yang pernah tercatat.

WMO mencatat temperatur rata-rata global permukaan Bumi saat ini sudah mencapai 1,2 derajat celcius, lebih tinggi daripada tahun 1850-an.

"Meluasnya suhu permukaan laut di atas rata-rata karena pemanasan global. Suhu udara di darat diperkirakan lebih hangat dari rata-rata pada Juni hingga Agustus 2021 di hampir seluruh belahan Bumi utara, khususnya di bagian barat tengah," tulis WMO dalam laporan yang dirilis di situs public.wmo.int.

Di Indonesia sendiri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada tahun 2020 merupakan tahun terpanas kedua berdasarkan pengamatan dari 91 stasiun BMKG. BMKG menunjukkan suhu rata-rata permukaan di Indonesia pada tahun 2020 lebih tinggi 0,7 derajat celcius dari periode referensi tahun 1981--2010.

"Situasi tersebut memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi, salah satunya kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya dipengaruhi kondisi kekeringan ekstrem, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikular ke udara," papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan persnya di Jakarta, dinukil AKURAT.CO, Minggu (8/8/2021).

BMKG pun meminta komitmen penuh pemerintah daerah dalam aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global atau global warming tersebut. "Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim butuh komitmen politik karena harus dimulai dari kepala daerah yang diwujudkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD)," ujar Dwikorita.

Menurutnya, pemerintah daerah harus mempersiapkan kemungkinan terburuk dari bencana alam serta dampak perubahan iklim seperti badai tropis, banjir, longsor, angin kencang, dan kekeringan yang diprediksi akan sering terjadi dengan intensitas lebih tinggi.

Dia menegaskan bahwa mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sudah mendesak supaya mencegah risiko dan kerugian yang lebih besar. Tak hanya pemerintah daerah, Dwikorita mengingatkan bahwa upaya mengatasi persoalan perubahan iklim membutuhkan komitmen gotong royong dan koneksitas yang kuat dari level pusat hingga daerah dengan usaha-usaha yang komprehensif dan nyata.

Misalnya, menggencarkan penghijauan secara tepat, pengendalian tata ruang secara lestari, pencegahan masif terhadap karhutla, menggalakkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi penggunaan energi fosil, serta menerapkan transportasi dan pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

"Jika komitmen hanya dilakukan satu daerah, hal tersebut menjadi kurang berarti. Kita harus membangun persepsi bersama bahwa perubahan iklim ini adalah sebuah kerisauan dan ancaman bersama yang juga harus dimitigasi bersama-sama, karena dampaknya tidak mengenal batas administrasi. Masyarakat juga harus dilibatkan, tidak hanya pemerintah," tandasnya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O