Akurat Logo

AMSI Crisis Center Covid-19 Hadir Edukasi Jurnalis di Tengah Wabah

| 28 Juli 2021, 02:30 WIB
AMSI Crisis Center Covid-19 Hadir Edukasi Jurnalis di Tengah Wabah

AKURAT.CO, Meningkatnya jumlah pasien akibat mutasi virus SAR-CoV-2, termasuk pada pekerja media dan keluarga, menggerakkan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) membentuk AMSI Crisis Center Covid-19. Peluncuran AMSI Crisis Center dilaksanakan pada Selasa, 27 Juli 2021, bersamaan dengan Diskusi Publik “Edukasi Penanganan COVID-19 bagi Pekerja Media”. 

Koordinator Utama AMSI Crisis Center Covid-19 Upi Asmaradhana menyampaikan bahwa Tim Crisis Center ini dibentuk sebagai respon dari meningkatnya jumlah pekerja media yang terpapar Covid-19. “Tim ini akan memberikan edukasi (preventif) pada anggota yang terpapar agar cepat pulih, dengan harapan menurunkan angka fatalitas dan ke depan tidak ada lagi anggota yang terpapar. Ini adalah upaya di tengah keterbatasan kondisi saat ini,” kata Upi. 

Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut menambahkan, Tim Crisis Center ini berupaya membantu anggotanya. “Kami ini membantu pekerja media yang bingung saat awal terpapar, baik dari aspek medis, psikologi dan lain-lain sehingga membutuhkan kolaborasi dengan para ahli,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh menyampaikan, “Pembentukan AMSI Crisis Center ini adalah langkah real. Dewan Pers menyampaikan penghargaan atas upaya untuk meringankan beban (pekerja media) ini,” ujarnya saat membuka sekaligus meluncurkan AMSI Crisis Center Covid-19. Dia menuturkan saat kondisi turbulensi Covid-19 ini diperlukan upaya-upaya bersama yang tepat sesuai kasus yang dihadapi.

“Diperlukan inovasi atau terobosan baru untuk menyelesaikan masalah baru (Covid-19), yang saat ini masih menjadi misteri. Perlu pendekatan multisektor, dilakukan bersama-sama didasari empati. AMSI Crisis Center Covid-19 ini adalah bentuk empati,” kata Mohammad Nuh.

Adapun panelis yang hadir dalam diskusi ini adalah dr. Adib Khumaidi, SpOT (Ketua Terpilih PB IDI & Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia), Sani Budiantini Hermawan, S.Psi. (Psikolog Sadari.id), dan dr. Widjanarko Brotosaputro (Direktur Pyridam Farma), dan Dr. dr. Lia G. Partakusuma, Sp.PK, MM, MARS (Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia-PERSI).

Adib Khumaidi saat sesi diskusi yang berlangsung secara virtual itu menyampaikan bahwa konsep yang dibuat AMSI sejalan dengan yang akan didorong IDI yakni penguatan civil society untuk menjaga anggota komunitas dari risiko paparan, sakit, dan mengurangi tingkat keparahan maupun meninggal.

“Dari IDI, kami siap mendukung agar pekerja media tetap sehat melalui telemedicine atau konsultasi. Karena virus ini akan terus bermutasi, yang bisa diintervensi adalah lingkungan dan orang-orangnya, dengan membuat aturan (standar operasional prosedure/ SOP) untuk mengurangi risiko paparan,” ujarnya.

Sani Budiantini Hermawan menambahkan, menjaga kesehatan mental pekerja media perlu sebagai upaya pencegahan atau terapi untuk pasien Covid-19. “Jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan rasa tidak sanggup menghadapi kondisi ini,” ujarnya. Menjaga kesehatan mental, kata Sani, dapat dilakukan oleh profesional atau orang-orang di lingkungannya dengan teknik yang baik.

Sementara, Widjanarko Brotosaputro mengingatkan konsumsi obat-obatan perlu dilakukan dengan hati-hati sesuai petunjuk dokter dan kondisi pasien. “Termasuk mengonsumsi vitamin tidak boleh berlebihan, perlu konsultasi dengan dokter atau apoteker. Jangan sampai karena takut Covid-19 kemudian mengonsumsi obat-obat atau vitamin tanpa memperhatikan peruntukannya atau minum di luar takaran dosis. Apalagi, jika mengonsumsi antibiotik atau antivirus perlu hati-hati,” terangnya.

Sedangkan Lia G. Partakusuma menyampaikan bahwa kehadiran komunitas dalam penanganan Covid-19 amat diperlukan. “Karena kita tidak bisa sendirian,” tuturnya. Lia mengungkapkan, saat ini dari 3.084 rumah sakit sebanyak 989 rumah sakit ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan Covid-19. Penambahan tempat tidur dari bulan Mei hingga 25 Juli pun telah naik tiga kali lipat menjadi 127.045 tempat tidur.

“Tapi, penambahan fasilitas (ruang isolasi khusus pasien Covid-19), tidak bisa naik cepat sejumlah tempat tidur,” ungkapnya. Lia menerangkan jumlah keterisian tempat tidur (BOR) mulai naik di berbagai tempat karena pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi berat dan kritis.

“Karena itu penting bantuan dari komunitas untuk menekan melalui edukasi 3M  untuk memutuskan rantai penularan. AMSI Crisis Center Covid-19 sangat penting, jika diperlukan membentuk command center,” kata Lia.

AMSI Crisis Center Covid-19 dipimpin Koordinator Utama yaitu Upi Asmaradhana (CEO KGI Network) dengan melibatkan pengurus AMSI pusat dan daerah serta para ahli di bidangnya masing-masing seperti: dokter, psikolog, agamawan dan lain-lain.

Kalangan dokter yang telah menyatakan kesediaannya yaitu dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD (Direktur RS Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta), dr. Khoirul Hadi, SpKK (Dokter spesialis di Solo dan sekaligus penyintas Covid-19), dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Ketua Terpilih PB IDI & Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia), dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH (Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi IDI & Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia), dr. Ulul Albab, SpOG. (Sekjen POGI JAYA).

Kalangan psikolog yang menyatakan mendukung tim ini adalah Susatyo Yuwono, S.Psi., M.Si. (Ketua HIMPSI Solo), Tim Psikolog Sadari.id, Elok Farida Husnawati, S.Psi. (HRD PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT). Sedangkan dari kelompok swasta yang bersedia memberikan dukungan adalah Pyridam Farma, dan jaringan Siloam Hospitals Group.

“Saat ini Tim Crisis Center terus menjajaki kerja sama dengan pihak-pihak lainnya,” kata Upi Asmaradhana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O