KPAI Sebut Minimnya Infrastruktur AKB di Sekolah Ancam Keselamatan Anak

AKURAT.CO Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan penyiapan infrastruktur untuk adaptasi kebiasaan baru (AKB) di sekolah sangat krusial karena menyangkut keselamatan jutaan siswa, guru dan warga sekolah lainnya.
"Bukan hanya masalah kuota internet, masalah minimnya infrastruktur sekolah mengancam nyawa anak-anak dan guru saat buka sekolah," kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti melalui keterangan pers yang diperoleh di Jakarta, Sabtu (29/8/2020).
KPAI kembali mengingatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bahwa ada banyak masalah di sektor pendidikan yang membutuhkan penanganan darurat, mulai dari perbaikan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) fase dua hingga penyiapan pembelajaran tatap muka dengan pemenuhan infrastruktur yang diperlukan untuk memudahkan penerapan protokol kesehatan atau standar operasional adaptasi kebiasaan baru di sekolah.
Data yang disampaikan Direktur SMP Kemdikbud dalam Rapat Koordinasi Nasional secara daring yang diselenggarakan KPAI pada Kamis (27/8/2020) menunjukkan bahwa ada 3.347 sekolah yang saat ini sudah menggelar tatap muka dan ada ribuan sekolah lainnya yang memaksa ingin buka sekolah tanpa pernah dipastikan kesiapan infrastruktur dan standar operasionalnya, baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 pusat dan daerah.
Retno mengatakan penyiapan infrastruktur untuk AKB membutuhkan dana yang tidak sedikit dan penyiapan tersebut tidak bisa mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena tidak cukup.
"Pengalaman SMKN 11 Kota Bandung yang sudah menyiapkan infrastruktur adaptasi budaya baru di sekolah dalam pembelajaran tatap muka ternyata anggaran penyiapan sangat besar, tak bisa hanya mengandalkan dana BOS, tetapi juga BOSDA dan dukungan angaran Komite Sekolah,” kata Retno.
Data dari survei KPAI yang melibatkan 6.729 sekolah juga menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung budaya bersih dan sehat di satuan pendidikan, baik sekolah maupun madrasah, masih minim.
Bahkan, sebelum ada pandemi COVID-19, sarana dan prasarana toilet, wastafel, sabun cuci tangan, tisu dan lain-lain juga masih tidak memadai.
KPAI mendorong anggaran pendidikan diprioritaskan untuk menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk penerapan adaptasi kebiasaan baru di sekolah.
"Semua itu butuh anggaran yang tidak kecil, jadi seharusnya politik anggaran mulai diarahkan ke pendidikan, terutama penyiapan infrastruktur untuk memenuhi protokol kesehatan agar kita dapat menjamin dan memenuhi hak hidup, hak sehat dan hak pendidikan jutaan anak Indonesia dan para gurunya,” ucap Retno.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan


