Miris, Kisah Ibu Melahirkan Ditolak Klinik dan Bidan Hingga Pecah Ketuban di Jalan

AKURAT.CO, Rani (29), seorang ibu rumah tangga yang harus berjuang demi melahirkan sang buah hati di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19.
Rani tidak habis pikir Covid-19 justru berdampak ke segala sektor. Termasuk, klinik yang menjadi faskes BPJS-nya. Rani bercerita bahwa klinik fakes BPSJ-nya menolaknya.
"Sebelumnya itu kan saya pake BPJS, faskes pertamanya di klinik gitu, nah pas mau kontrol ditolak karena lagi Covid-19, jadi gak layanin dulu pemeriksaan ibu hamil," kata Rani kepada AKURAT.CO, Senin (20/4/2020).
Manut kebijakan klinik, Rani memutuskan pulang ke rumah bersama suami dengan mengendarai sepeda motor. Di perjalanan pulang Rani merasakan kontraksi, sakit di bagian perut bak dicabik-cakit.
Suami Rani yang panik, mengarahkan sepeda motornya ke praktik bidan rumahan. Lokasi praktik bidan yang dikunjungi Rani dan suami dekat dengan rumah tinggalnya di kawasan Jakarta Timur.
Setibanya di tempat bidan, Rani merasakan di bagian kemaluannya basah. Ternyata, Rani mengalami pecah ketuban di jalan.
Alih-alih segera ditolong, Rani malah mendapat penolakan dari bidan. Dalih bidan, keadaan Rani sudah memprihatinkan dan harus ke rumah sakit besar untuk proses persalinan secara sesar. "Kata bidannya harus sesar, soalnya bidannya gak berani induksi."
Rani sempat ditawari bidan untuk menggunakan ambulans ke rumah sakit besar. Namun, bidan tadi mamatok harga sewa ambulans. "Biayanya Rp2 juta antar jemput, nah saya gak mau."
Sang Suami akhirnya mengambil sepeda motornya. Rani pun langsung naik dan bergegas ke rumah sakit.
Beruntung, sesampainya di rumah sakit Rani langsung mendapat pertolongan di ruang instalasi gawat darurat (IGD). Tepat pada 27 Maret 2020 sang buah hati menghirup napas di dunia. Wajah sedih, senang Rani bercampur aduk.
Pengalaman itu tidak akan dilupakan Rani. Dia berharap tenaga medis tidak ada yang menolak ibu melahirkan. Sebab, belum tentu ibu melahirkan terpapar Covid-19.
"Semoga ini (Covid-19) bisa cepat pulih, karena nanti masih harus vaksin anaknya kami. Jadi ada kemungkinan ke RS atau klinik lagi buat vaksin. Apalagi anak bayi rawan," tandasnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Dukung Mesir Amankan Hak Air di Sungai Nil: Indonesia Prihatin Atas Upaya Pelanggaran Hukum Internasional
- 10Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia


