Erasmus+ Fasilitasi Mahasiswa Belajar Hingga di Tujuh Universitas Eropa

AKURAT.CO, Program beasiswa Erasmus+ yang didanai oleh Uni Eropa memfasilitasi mahasiswa Indonesia tingkat master untuk belajar di dua atau lebih universitas di negara Eropa berbeda.
Melalui program "Erasmus Mundus Joint Master Degree", mahasiswa bisa menempuh studi S2 dengan berpindah minimum di dua universitas di dua negara Eropa yang berbeda atau maksimal hingga tujuh universitas berbeda.
"Karena belajarnya berpindah-pindah mereka bisa mengetahui sistem pendidikan di negara yang berbeda, serta mengenali masyarakat dan budaya yang berbeda pula," kata Manajer Program Pendidikan Delegasi UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Destriani Nugroho di sela-sela upacara penghargaan beasiswa Erasmus+ di Jakarta, Sabtu (14/7).
Untuk Tahun Akademik 2018, 38 dari total 240 mahasiswa dan dosen Indonesia mendapat beasiswa Erasmus+ untuk studi tingkat master.
Salah satu penerima beasiswa, Resty Armenia, memilih Program Erasmus+ yang memberinya lebih banyak kesempatan untuk belajar, bahkan hingga di empat negara, yaitu Portugal, Norwegia, Swedia, dan Uganda.
Skema beasiswa lain, menurut dia, tidak ada yang selengkap Erasmus+ yang juga memfasilitasi program magang dan kerja lapangan.
"Melanjutkan kuliah di Eropa juga sesuai dengan minat saya mempelajari tentang kesejahteraan keluarga dan anak, yang di Indonesia mata kuliahnya belum banyak soal itu," tutur dia.
Pelaksana Tugas Direktur Kerja Sama Intrakawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Virdiana Ririen Hapsari berharap, jumlah penerima beasiswa Erasmus+ terus bertambah setiap tahunnya, sebagai upaya bersama meningkatkan ilmu dan kapasitas generasi muda untuk masa depan yang lebih baik.
Generasi muda, kata dia, mengisi 15 persen dari total populasi Indonesia sehingga peran mereka untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa menjadi tidak terelakkan.
"Pada 2045 Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan, pada saat itu generasi muda saat ini akan memegang peranan dalam proses pengambilan keputusan baik tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, mereka harus dibekali dengan keahlian dan kompetensi yang optimal karena masa depan dan kesejahteraan Indonesia ada di tangan mereka," tutur Virdiana.
Sejak diluncurkan pertama kalinya pada 2004, sudah lebih dari 1.600 mahasiswa Indonesia menerima manfaat beasiswa Erasmus+.
Selain program master dan pertukaran untuk mahasiswa S1, beasiswa itu juga memfasilitasi pertukaran antara dosen Indonesia dan Eropa.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK

