Pemerintah Dorong Kolaborasi dengan Swasta untuk Penuhi Kebutuhan Air Bersih di Indonesia

AKURAT.CO Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, mengatakan ketersediaan air bersih di Indonesia masih belum merata baik dalam sisi kewilayahan, jumlah, dan juga mutu.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan pembangunan infrastruktur yang memadai. Mulai dari penampungan air baku, instalasi pengolahan, jaringan transmisi, hingga distribusi kepada masyarakat.
Menurut PBB, manusia berhak mendapatkan air yang aman sekitar 50-100 liter air per orang per hari, agar masyarakat dapat hidup sehat dan bebas dari penyakit. Kendati demikian, berdasarkan perhitungannya, biaya penyediaan air bersih masih berada pada tingkat yang wajar.
Baca Juga: PWNU Ingatkan Pemprov Jakarta: Jangan Jadikan Air Bersih Barang Dagangan
"Rata-rata perusahaan air lokal memerlukan biaya produksi sekitar lima sampai enam rupiah per liter, sementara biaya dari teknologi desalinasi terkini sudah menyentuh sekitar delapan rupiah per liter. Jika dihitung secara nasional, untuk lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, kebutuhan pendanaannya bukan angka yang mustahil dicapai," kata Rachmat, dikutip Minggu (12/11/2025).
Menurutnya, tantangan penyediaan air bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia bukanlah tantangan yang mustahil untuk diwujudkan.
Sektor swasta memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan air bersih, melalui investasi pembangunan instalasi pengolahan air. Namun, perlu ada pihak yang berperan sebagai counterparty atau mitra penyerap hasil produksi tersebut.
"Jika kita mendorong sektor swasta membangun instalasi pengolahan air, maka harus ada lembaga atau entitas yang mampu menerima, mengelola, dan mendistribusikan air tersebut dengan baik," ucapnya.
Rachmat juga menyoroti potensi ekonomi dari sektor air bersih. Berdasarkan data, industri air kemasan di Indonesia mencatat pendapatan lebih dari 3 miliar dolar pada tahun sebelumnya.
Dia menekankan pentingnya tata kelola air yang adil dan transparan, agar distribusi air dapat dilakukan secara merata.
"Artinya, masyarakat bersedia membayar untuk air bersih, sehingga ada potensi pasar yang nyata. Kita harus memastikan tata kelola yang adil, transparan, dan akuntabel agar air tidak menjadi komoditas yang hanya dinikmati segelintir pihak. Ini adalah tantangan tata kelola yang perlu kita atur sejak awal," jelasnya.
Pihaknya pun optimis bahwa tantangan air bersih di Indonesia dapat diatasi, dengan kerja sama dan langkah konkret dari berbagai pihak. "Masalahnya bukan tidak bisa diselesaikan. Kita hanya perlu bergerak bersama untuk memastikan akses air bersih bagi semua," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








