Akurat Logo

Kunjungan Prabowo ke China Buka Peluang Kerja Sama Pariwisata dan Investasi Global

Ahada Ramadhana | 6 September 2025, 16:53 WIB
Kunjungan Prabowo ke China Buka Peluang Kerja Sama Pariwisata dan Investasi Global

AKURAT.CO Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Beijing, China, menunjukkan jati diri Indonesia dalam menempatkan diri sebagai negara yang dapat diperhitungkan di kawasan Asia maupun global.

Pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dapat dinilai sebagai pembuka jalan baru untuk memperluas kerja sama di bidang pariwisata dan investasi.

"Dari sisi pariwisata, kedekatan diplomasi ini bisa diterjemahkan ke dalam peningkatan arus wisatawan mancanegara, khususnya dari China dan Rusia, yang selama ini termasuk pasar potensial Indonesia," kata Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata Taufan Rahmadi, Sabtu (6/9/2025).

Baca Juga: Presiden Prabowo Hadiri Maulid Nabi dan Istighosah Kebangsaan di Masjid Istiqlal

Data menunjukkan, sebelum pandemi, wisatawan asal China pernah menempati peringkat kedua terbesar ke Indonesia. Sementara Rusia walaupun volumenya tidak sebesar China, namun dikenal dengan karakter wisatawan yang memiliki daya belanja tinggi dan lama tinggal lebih panjang.

"Dengan adanya penguatan hubungan bilateral di level kepala negara maka peluang untuk membuka kembali direct flight, joint promotion, serta investasi pada sektor amenitas pariwisata menjadi semakin besar," jelasnya.

Selain itu dari sisi investasi, pembahasan mengenai proyek strategis seperti giant sea wall di pantura Jawa menjadi pintu masuk bagi kerja sama jangka panjang, yang juga dapat memberi manfaat terhadap destinasi wisata pesisir. 

Baca Juga: PPP Tulang Bawang Barat Siap Menangkan Mardiono dan Dukung Program Prabowo–Gibran

Maka, infrastruktur berskala besar seperti ini akan memberikan efek ganda. Salah satunya berupa peningkatan daya tarik kawasan pesisir sebagai kawasan wisata modern, ramah lingkungan, sekaligus berdaya saing global.

Dia menekankan, kunjungan Presiden Prabowo yang hanya delapan jam ke China tidak bisa hanya dipandang sebagai agenda diplomasi singkat. Melainkan sebagai penegasan arah baru politik luar negeri Indonesia, dalam mengaitkan diplomasi politik dengan peluang konkret di sektor ekonomi, investasi, dan pariwisata

"Ke depan, yang diperlukan adalah tindak lanjut cepat dalam bentuk kerja sama teknis, government-to-government agreement, hingga keterlibatan sektor swasta agar peluang ini tidak hanya berhenti pada tataran simbolik, melainkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.