Kunjungan Prabowo ke China Buka Peluang Kerja Sama Pariwisata dan Investasi Global

AKURAT.CO Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Beijing, China, menunjukkan jati diri Indonesia dalam menempatkan diri sebagai negara yang dapat diperhitungkan di kawasan Asia maupun global.
Pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dapat dinilai sebagai pembuka jalan baru untuk memperluas kerja sama di bidang pariwisata dan investasi.
"Dari sisi pariwisata, kedekatan diplomasi ini bisa diterjemahkan ke dalam peningkatan arus wisatawan mancanegara, khususnya dari China dan Rusia, yang selama ini termasuk pasar potensial Indonesia," kata Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata Taufan Rahmadi, Sabtu (6/9/2025).
Baca Juga: Presiden Prabowo Hadiri Maulid Nabi dan Istighosah Kebangsaan di Masjid Istiqlal
Data menunjukkan, sebelum pandemi, wisatawan asal China pernah menempati peringkat kedua terbesar ke Indonesia. Sementara Rusia walaupun volumenya tidak sebesar China, namun dikenal dengan karakter wisatawan yang memiliki daya belanja tinggi dan lama tinggal lebih panjang.
"Dengan adanya penguatan hubungan bilateral di level kepala negara maka peluang untuk membuka kembali direct flight, joint promotion, serta investasi pada sektor amenitas pariwisata menjadi semakin besar," jelasnya.
Selain itu dari sisi investasi, pembahasan mengenai proyek strategis seperti giant sea wall di pantura Jawa menjadi pintu masuk bagi kerja sama jangka panjang, yang juga dapat memberi manfaat terhadap destinasi wisata pesisir.
Baca Juga: PPP Tulang Bawang Barat Siap Menangkan Mardiono dan Dukung Program Prabowo–Gibran
Maka, infrastruktur berskala besar seperti ini akan memberikan efek ganda. Salah satunya berupa peningkatan daya tarik kawasan pesisir sebagai kawasan wisata modern, ramah lingkungan, sekaligus berdaya saing global.
Dia menekankan, kunjungan Presiden Prabowo yang hanya delapan jam ke China tidak bisa hanya dipandang sebagai agenda diplomasi singkat. Melainkan sebagai penegasan arah baru politik luar negeri Indonesia, dalam mengaitkan diplomasi politik dengan peluang konkret di sektor ekonomi, investasi, dan pariwisata
"Ke depan, yang diperlukan adalah tindak lanjut cepat dalam bentuk kerja sama teknis, government-to-government agreement, hingga keterlibatan sektor swasta agar peluang ini tidak hanya berhenti pada tataran simbolik, melainkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








