Belajar dari Filsuf China Zhuang Zi, Ini 7 Prinsip Hidup ala Taoisme

AKURAT.CO, Zhuang Zi (369-286 SM) adalah seorang tokoh besar dalam dunia filsafat China, terutama aliran filsafat yang digagas oleh Lao Zi/Lao Tzu, yakni taoisme. Zhuang Zi adalah sosok penting yang meneruskan taoisme sepeninggal Lao Zi.
Nama aslinya adalah Zhuang Zhou/Chuang Chou, terkadang ditulis Chuang Tzu. Semenjak mendapat gelar zi (master), ia lebih dikenal sebagai Zhuang Zi. Namanya juga diabadikan sebagai judul kitab yang menjadi teks fondasi taoisme, yakni "Zhuangzi".
Filsuf yang hidup di era Negara-negara Berperang/Warring States (476–221 BC) ini dikenal miskin. Sosoknya identik memakai sandal jerami bikinan sendiri, yang sebenarnya adalah barang dagangannya untuk menyambung hidup. Bahkan pernah suatu kali ia menghadap Raja Hui dari Negeri Wei/Liang dengan pakaian yang ditambal di sana-sini. Zhuang Zi menjawab dengan jujur bahwa dirinya bukan bermaksud tidak sopan di hadapan raja, melainkan karena memang miskin dan hanya itulah rezeki yang dia punya.
Pernah pula Zhuang Zi mendapat tawaran harta yang jumlahnya tak sedikit baginya dari Raja Wei dari Negeri Chu yang telah mendengar kepapaannya. Syaratnya, Zhuang Zi bersedia mengabdi sebagai menteri utama negaranya. Namun, ia menolak dengan alasan lebih ingin menikmati kehendak bebasnya sendiri tanpa keterikatan apa-apa. Dia yang bertekad tidak akan pernah mengambil jabatan itu juga mengaku lebih suka bersenang-senang di tengah parit kotor daripada harus tunduk pada aturan dan berbagai batasan di kerajaan.
Buku fenomenal tentang China masa lampau "Records of the Grand Historian" yang ditulis pejabat Dinasti Han bernama Sima Qian mendeskripsikan Zhuang Zi sebagai pejabat minor dari Kota Meng (kini Anhui) yang masuk dalam kekuasaan Negeri Song. Zhuang Zi hidup di akhir abad ke-4 SM pada era Raja Hui dari Negeri Wei (masa memerintah 369–319 SM) dan Raja Xuan dari Negeri Qi (masa memerintah 319–301 SM).
Zhuang Zi yang merupakan seorang kutu buku yang telah bergumul dengan banyak literatur pada masanya, tetapi akhirnya lebih condong pada ajaran taoisme Lao Zi. Dalam sekian banyak tulisannya yang terbit, Zhuang Zi dengan jelas menunjukkan tendensi pada Lao Zi. Ia bahkan kerap memberi ilustrasi metaforis tentang doktrin-doktrin Lao.
"Tetapi Zhuang adalah seorang penulis yang mengagumkan dan komposer yang mahir, dan dengan contoh-contoh serta uraiannya yang jujur ??memukul dan menelanjangi Mohis dan Literati. Para cendekiawan yang paling cakap di zamannya tidak bisa lepas dari sindirannya atau pun membalasnya, sementara dia membiarkan dan menikmati dirinya sendiri dengan gayanya yang gemerlap dan gagah; dan karenanya orang-orang terhebat, bahkan raja dan pangeran, tidak dapat memanfaatkannya untuk tujuan mereka," tulis Sima Qian, dilansir Charles F. Horne dalam "The Sacred Books and Early Literature of the East, Volume XII: Medieval China".
Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat "Belajar Sampai ke Negeri China" memaparkan, sang master dikenal dengan ajaran kebebasan dan perspektif. Zhuang Zi menggambarkan kebebasan dengan perumpamaan sapi kurban. Mereka diperlakukan istimewa dengan pakan enak dan tempat nyaman, namun sebenarnya terkungkung. Awalnya enak, tapi akhirnya disembelih.
Sedangkan dalam konsep perspektivisme, segala sesuatu tergantung apa, siapa, dan kondisinya. Standar buatan manusia tidaklah mutlak. Jika mengira yang relatif itu mutlak maka manusia makin jauh dari kebenaran. Digambarkan Zhuang Zi, burung pipit menertawakan elang yang terbang begitu tinggi, membandingkan dengan hidupnya yang hanya perlu nangkring di pohon sambil bercuit-cuit. Padahal, pandangan, pengetahuan, dan cara hidup pipit beda dengan elang sehingga tak bisa dipaksakan sama.
“Kita kadang pakai standar orang lain yang belum tentu cocok untuk diri kita. Akhirnya kita susah sendiri,” kata Fahruddin.
Pokok-pokok Ajaran Taoisme
Taoisme yang dibawa oleh Zhuang Zi adalah ajaran yang menganjurkan hidup dalam harmoni dengan tao/dao (alam semesta). Kata dalam bahasa China ini pada dasarnya berarti jalan, rute, doktrin, atau prinsip. Secara lebih dalam, tao adalah tatanan alami semesta yang karakternya harus diselisik oleh intuisi (bisikan hati) agar manusia dapat menyadari potensi kebijaksanaan masing-masing. Pengetahuan intuitif tentang kehidupan ini tidak dapat dipahami dari konsep, melainkan melalui pengalaman hidup aktual dari keseharian seseorang.
Berbeda dari Buddha yang menganggap hidup itu pahit dan penuh jebakan sehingga tugas manusia untuk membebaskan diri dari derita, atau konfusianisme yang memandang hidup agak kecut sehingga perlu aturan agar manusia terkontrol, taoisme menganggap hidup ini indah dan harmoni dengan alam sekaligus meyakini dunia sebagai guru berharga dalam hidup. Taoisme berisi ajaran tentang cara memandang dan menjalani hidup dengan proses alamiah yang selalu dijaga.
Dalam taoisme, kebahagiaan tertinggi adalah wu wei yang secara harfiah berarti “tidak berbuat”. Dalam artian, bukannya tidak berbuat apa-apa, melainkan berbuat tanpa mengejar apa pun, termasuk kebahagiaan. Dengan kata lain, berbuat tanpa dibuat-buat alias sewajarnya. Sebab pada prinsipnya, melawan wu wei berarti melawan kodrat, maka akan sulit sendiri.
Misalnya saat lapar maka pergi makan dan bukan berpura-pura masih kenyang. Jika lelah maka beristirahat bukan berlagak kuat. Jika tidak suka, maka sampaikan, bukan pura-pura baik-baik saja. Dengan kata lain, kebahagiaan terletak dalam tidak adanya upaya mencari kebahagiaan. Sebab, mencari kebahagiaan berarti belum mendapatkannya.
Wu wei berarti pula menjalani hidup tanpa ketegangan. Hal ini dikarenakan dalam wu wei, seseorang hendaknya membatasi kegiatannya pada apa yang diperlukan saja (sesuai kewajaran).
Dr. J. Zai dalam "Taoism and Science: Cosmology, Evolution, Morality, Health and More" menuliskan gambaran soal tao ini. Menurutnya, terdapat 3 karakter utama tao. Pertama, evolusi/perubahan. Segala hal dalam alam semesta berubah secara terus-menerus, disertai keharmonian (keseimbangan) yang bersifat abadi. Kedua, relativitas/kesatuan. Dua sisi benda (Yin dan Yang) bersifat saling ketergantungan satu sama lain, namun menyatu dalam kesatuan. Misalnya, tak akan ada baik tanpa buruk. Ketiga, perjumpaan ekstrem (lingkaran semesta). Ketika benda mencapai satu kutub ekstrem, itu akan memantul balik ke kutub ekstrem lainnya.
Ketiga pandangan itu menurutnya terkandung dalam taijitu (simbol Yin dan Yang) yang tampak berputar. Dikatakan, simbol taijitu adalah interaksi dan kesatuan yang konstan dari dua kekuatan yang berlawanan.
"Taoisme percaya masyarakat harus bertindak menurut aturan alam semesta (tao). Moralitas dipertimbangkan sebagai bagian penting dari aturan. Tiga Harta Tersembunyi yang digambarkan dalam Tao Te Ching adalah kasih sayang, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Teks taois mengecilkan dominasi, kepemilikan, ekstremisme, kecurangan, kompetisi, dan lain-lain. Ajaran taois mendorong asumsi yang meyakini bahwa manusia dasarnya baik. Wu wei (tindakan tidak berbuat apa-apa) adalah poin kunci dalam taoisme: Sesuatu yang kamu ingin kau kendalikan, akan mengendalikanmu. Satu prinsip fundamental dalam taoisme adalah cinta pada konektivitas. Dengan kata lain, menghindari penghalang. Prinsip ini berlaku uuntuk semua hal. Dalam konteks kesehatan, penyakit datang dari penghalang saluran tubuh, maka metode penanganan seharusnya membuka penghalangnya. Dalam kehidupan sosial, berarti lebih banyak teman biasanya lebih baik," terang Dr J. Zai.
7 Prinsip Hidup Taoisme
Menurut pemaparan Fahruddin Faiz, terdapat 7 rumus yang perlu dipegang jika ingin meniti hidup ala taoisme yang digagas oleh Lao Zi lalu diteruskan Zhuang Zi ini, yakni sebagai berikut.
1. Simplicity (sederhana)
Sesuai kebutuhan namun tidak berkekurangan alias pas. Diibaratkan, jika hanya perlu menulis 2 kalimat, maka tidak perlu dipanjang-panjangkan menjadi 2 lembar. Memegang prinsip kesederhanaan dalam menjalani hidup membuat seseorang punya rem untuk berbagai keinginan yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan. Hasrat untuk mengejar gemerlap dunia tidak begitu menggebu, tetapi sewajarnya.
2. Sensitivity (kepekaan)
Maknanya ialah perasaannya hidup, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Dengan kepekaan, kita bisa paham apa yang sedang dibutuhkan. Misalnya, ketika memasuki musim hujan, maka ke mana-mana mesti sedia jas hujan. Jika ada teman yang murung, berarti perlu dihibur. Jika teman tampak kelaparan, maka coba tawarkan untuk mentraktirnya makan.
3. Flexibility (tidak kaku)
Prinsip berikutnya adalah mengerti situasi, bahwa kenyataan bisa berubah-ubah sehingga kita mampu melakukan antisipasi. Fleksibel berarti kita bisa menyesuaikan diri pada perubahan, tidak terpaku pada rumus hingga menjadi kaku. Hidup tidak melulu berpaku pada teori, sebab prinsipnya: teori untuk hidup bukan hidup untuk berteori. Hidup yang tidak fleksibel (kaku) dapat menyebabkan konflik yang bisa merusak harmoni.
4. Independence (merdeka)
Merdeka bisa berarti mandiri, leluasa, tidak terikat, tidak bergantung kepada pihak tertentu. Mandiri juga berarti kondisi tidak dijajah/dikungkung alias bebas dalam mewujudkan apa yang diinginkan, selama tidak menabrak norma.
5. Focused (berpikir jelas)
Prinsip selanjutnya, punya prinsip yang jelas dan arahnya nyata. Tujuan yang belum terpusat alias masih kabur perlu didetailkan terlebih dahulu. Sebab, punya fokus yang jelas dalam setiap aktivitas membuat kita lebih produktif. Pasalnya, tujuan yang sudah terang akan mempercepat dan memudahkan kita dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga sisa waktu yang ada bisa kita gunakan untuk aktivitas lain. Fokus ini diperlukan, baik untuk rencana jangka pendek maupun jangka panjang.
6. Cultivated (matang)
Prinsip ini bisa kita upayakan seiring dengan bertambahnya usia. Matang atau dewasa, bisa diartikan perkembangan fisik dan psikologisnya sudah sempurna sehingga mampu menghadapi berbagai hal secara tepat. Kematangan amat diperlukan terlebih di era kemajuan teknologi sekarang. Sebab, teknologi memberi efek yang besar dalam hidup kita.
Diakui atau tidak, teknologi membuat kita lebih mengedepankan tindakan komunikasi daripada makna komunikasi. Melalui berbagai media sosial, kita sibuk menjalin komunikasi setiap jam bahkan setiap menit, dengan orang nun jauh di sana, sambil mengacuhkan orang-orang yang berada di dekat kita. Selain itu, derasnya arus informasi hari ini lebih fokus pada sisi kulit yang bersifat sensasi.
7. Joyous (gembira)
Prinsip terakhir ini rasanya sangat perlu diindahkan agar hidup tidak melulu diisi dengan keluhan. Jika mau jujur, sisi enak lebih banyak daripada yang tidak enak. Hanya saja, kesadaran itu tidak muncul karena kita lebih fokus pada yang tidak enak. Kadang, kita sendirilah yang mencari-cari alasan untuk tidak gembira.
Itulah sedikit gagasan dari filsuf Zhuang Zi, penerus ajaran taoisme yang digagas Lao Zi. Taoisme pada dasarnya mengajarkan kita sebagai bagian alam semesta kecil agar berperilaku selaras dengan alam semesta yang besar agar keseimbangan terus berlangsung. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




