Artificial Intelligence dan Masa Depan Belanja di Indonesia

AKURAT.CO Pandemi membuat hidup dan kehidupan berubah ke arah digital. Adanya pembatasan aktivitas masyarakat membuat banyak aktivitas bisnis yang akhirnya melakukan transformasi bisnis ke arah daring. Hal itu membuat ekonomi digital tanah air melambung tinggi.
Berdasarkan riset Google, Temasek dan Bain company, gross market value (GMV) dari ekonomi digital Indonesia pada tahun lalu mencapai USD 70 miliar dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Di tengah transisi pandemi ke endemi yang berlangsung saat ini, geliat sektor usaha diprediksi bakal semakin moncer. Salah satu sektor yang bakal kembali bersinar adalah ritel. Hal itu disandari pada tumbuhnya konsumsi masyarakat sejak beberapa bulan ke belakang.
Refleksinya terlihat pada Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini pada kuartal II tahun lalu yang mulai meningkat ke angka Rp 2.772,8 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.589,8 triliun. Sedangkan untuk PDB per kapita di sepanjang 2021, angkanya terbang menjadi Rp 62,2 juta atau setara dengan USD 4.349,5 dari posisi sebelum pandemi yang hanya bertengger di angka Rp 59,3 juta.
Koichiro Koide, President & CEO NEC Asia-Pacific mengatakan di tingkat ASEAN, pada tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, PDB di ASEAN terkoreksi 5,3% dan ekonomi digital tumbuh 18,2%. Namun di 2021 ketika PDB di proyeksikan mencapai 3,9%, ekonomi digital tumbuh 48,7%.
"Hal itu menunjukkan lompatan yang sangat besar karena gaya hidup masyarakat jelas berubah, dari analog ke digital, dari fisik ke online. Kita perlu mengejar fase ini," katanya dalam NEC Visionary Day ASEAN 2022 beberapa waktu lalu.
Menangkap peluang tersebut, NEC yang merupakan perusahaan penyedia solusi IT dan jaringan terus melakukan terobosan guna mendukung ekosistem digital tumbuh lebih subur. Teranyar, perusahaan mendorong penerapan sistem Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di sektor ritel.
Sistem NEC digunakan oleh AEON Mall untuk menerapkan sistem pemesanan secara daring dan terintegrasi dengan sistem yang ada di Food Court. Lewat teknologi yang diusungnya, masyarakat bisa berbelanja dengan konsep nir-sentuh.
Dimana pengguna dapat melakukan order makanan, menggunakan e-voucher dan mengakses layanan beacon berbasis lokasi di seluruah AEON Mall di Indonesia.
NEC juga menyediakan sistem Point of Sales (POS) berkinerja mumpuni yang hemat energi. Tidak luput dari, sistem IEMS alias sistem uang elektronik prabayar juga disediakan untuk bisa mengurangi biaya impleentasi dan waktu penerapan.
Dengan konsep tersebut, jumlah antrian kasir akan terpangkas yang pada akhirnya mampu meningkatkan kepuasan pelanggan dan penjualan per pelanggan.
Joji Yamamoto President Director NEC Indonesia mengungkapkan, sejalan dengan perubahan kebiasaan masyarakat imbas Covid-19, banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi baru untuk memfasilitasi New Normal, dan 43% diantaranya mengharapkan anggaran TI meningkat.
"Hal itu jelas membutuhkan teknologi baru termasuk solusi jarak jauh, transparan, tanpa kontak, dan otomatis. Agar mal tetap beroperasi, mereka harus mengubah sistem dan prosesnya agar selaras dengan pedoman yang diberikan oleh pejabat kesehatan masyaraka," tuturnya.
Lebih jauh Joji menjelaskan mal yang baru dibuka juga perlu menyeimbangkan keinginan konsumen untuk interaksi sosial dengan kebutuhan mereka akan pengalaman berbelanja yang aman dan mudah.
"Fokus pada keselamatan, kebersihan, dan lingkungan tanpa kontak akan menjadi masa depan ritel," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





