AKURAT.CO, Sejak bulan Maret, DBD terus mengintai warga Tangsel seiring statusnya sebagai zona merah dalam penyebaran covid-19. Ini membuat PKB Banten mengambil langkah antisipasi dengan melakukan fogging di seluruh wilayah Banten.
Ketua DPW PKB Banten Ahmad Fauzi menyampaikan, fogging dilakukan atas permintaan warga. "Warga menyampaikan keluhan masih adanya korban DBD. Akhirnya kami melakukan fogging," katanya pada media di Tangsel, Minggu (5/5).
Ketua Fraksi PKB DPRD Banten menjelaskan bahaya DBD jangan sampai dianggap remeh di tengah upaya pencegahan covid-19 di Banten. Menurutnya, antisipasi dini bisa dilakukan dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan.
"Memang beban penanganan covid-19 masih harus kita pikul, namun kita harus tetap waspada bahaya DBD. Karena tiga bulan terakhir masih ada korban di DBD di masyarakat," pintanya.
Ahmad Fauzi mengaku diminta warga untuk mengambil langkah fogging dalam mengurangi bahaya DBD. "Kami dengan senang hati bisa membantu masyarakat dalam mengantisipasi bahaya DBD dengan fogging. Praktis dan ekonomis," tutupnya.
Adapun wilayah pertama yang melakukan fogging yang dimulai di RW 09 Kelurahan Pondok Benda Kecamatan Pamulang Tangsel. "Hari ini kita mulai melakukannya melibatkan kader PKB dan masyarakat," kata Ketua PAC PKB Pamulang Sarjono di sela-sela kegiatan fogging.
Bagi Sarjono, beberapa tempat di wilayah Tangsel rawan terkena DBD. Pasalnya kebiasaan membiarkan genangan air masih terjadi. "Terutama sampah botol dan gelas plastik yang ada di area bukan pemukiman, ini jarang diperhatikan," keluhnya.
Memang pengakuan warga, ucap Sarjono, genangan air baik di satu wadah dan atau got sudah banyak ditertibkan seiring program grebek jentik yang melibatkan pengurus RT, tapi itu hanya menyasar di area pemukiman.
"Peluang sekecil apapun nyamuk bisa berkembang biak harus dihilangkan. Kami tadi mengoptimalkan fogging di area kosong sambil membersihkan sampah gelas dan botol plastik," jelasnya.
Sarjono menyampaikan fogging akan dilakukan bertahap ke beberapa wilayah atas permintaan warganya. "Ini harus tetap atas izin lingkungan," pungkasnya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai



