Akurat Logo

Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global ala Bos BI

Esha Tri Wahyuni | 20 Oktober 2026, 10:30 WIB
Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global ala Bos BI
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan intervensi pasar dan insentif lindung nilai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Upaya tersebut disebut telah menarik aliran dana masuk ke pasar keuangan domestik senilai sekitar USD8 miliar hingga USD9 miliar.

Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, bank sentral akan terus memantau pergerakan pasar dan mengevaluasi efektivitas instrumen stabilisasi yang dimiliki. Langkah itu dilakukan sesuai arahan Presiden untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi

"Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar," kata Destry usai rapat terbatas bidang ekonomi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam (19/10/2026).

Destry menjelaskan, instrumen yang digunakan BI mencakup intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), serta pemberian insentif biaya lindung nilai yang telah dilakukan sejak akhir Juni.

"Apakah itu bentuknya intervensi, di spot, NDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya lindung nilai yang juga sudah kami berikan sejak akhir Juni yang lalu," ujarnya.

Menurut Destry, berbagai langkah tersebut mulai memberikan dampak terhadap pergerakan pasar keuangan domestik. Aliran dana masuk tercatat melalui instrumen swap maupun domestic non-deliverable forward (DNDF).

"Dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan aliran dana masuk, baik dalam bentuk efek swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar USD8 miliar sampai USD9 miliar," paparnya.

Meski demikian, upaya menjaga stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi pasar. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga negara-negara maju masih menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diantisipasi BI.

Baca Juga: Bank Indonesia Salurkan 32,5 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Destry menyoroti kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di negara-negara maju, seiring tingkat inflasi yang masih berada di atas sasaran bank sentral masing-masing.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.