Alasan AS Ngebet Akuisisi 50 Persen Mineral Tanah Jarang Ukraina
Demi Ermansyah | 16 Februari 2025, 22:54 WIB

AKURAT.CO Amerika Serikat (AS) dikabarkan menginginkan akses terhadap 50% mineral tanah jarang atau Rare Earth Elements (REE) Ukraina, memicu spekulasi tentang kepentingan strategis di balik tawaran tersebut.
Dimana langkah tersebut dianggap sebagai bagian dari persaingan geopolitik dengan China dan Rusia, yang selama ini mendominasi produksi mineral tanah jarang di dunia.
Dikutip dari laman NBC News, Minggu (16/2/2025), Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara langsung menawarkan rancangan kontrak kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Namun, Zelenskiy menolak menandatangani dokumen tersebut dan memilih untuk mempelajari lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.
“Kami tidak akan terburu-buru. Setiap keputusan harus dipertimbangkan secara matang,” ucapnya.
Seperti yang diketahui, mineral tanah jarang merupakan komponen kunci dalam teknologi modern, termasuk produksi kendaraan listrik, ponsel pintar, hingga sistem pertahanan militer.
China saat ini mengendalikan sebagian besar pasokan global, membuat AS berupaya mencari sumber alternatif salah satunya dari Ukraina.
Mengacu kepada data dari US Geological Survey (USGS) menyebut bahwa meskipun cadangan tanah jarang terbesar ada di China, Brasil, India, Australia, dan Rusia, Ukraina diyakini memiliki potensi cadangan yang signifikan.
Namun, sebagian wilayah yang memiliki endapan mineral tersebut berada di bagian timur Ukraina yang masih dikuasai oleh Rusia.
Sikap AS terhadap Ukraina bukanlah hal baru. Sejak 2022, Washington telah memberikan bantuan ekonomi dan militer kepada Kyiv dalam perang melawan Rusia.
Namun, di balik dukungan tersebut, muncul pertanyaan apakah AS benar-benar membantu Ukraina demi keamanan, atau justru ingin mendapatkan akses terhadap sumber daya alamnya.
Meski saat ini belum ada kesepakatan yang disepakati, langkah AS dalam mendekati Ukraina untuk mendapatkan akses mineral tanah jarang menegaskan bahwa geopolitik global semakin terpusat pada perebutan sumber daya strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina









