Ekspor China November 2024 Melonjak Hampir 7 Persen di Tengah Ketegangan dengan AS
Demi Ermansyah | 11 Desember 2024, 13:25 WIB

AKURAT.CO Ekspor China kembali mencatatkan pertumbuhan signifikan hampir 7%, tepatnya 6,7%, mencapai USD312,3 miliar pada November 2024, didorong oleh langkah cepat para perusahaan-perusahaan mengirim barang sebelum tarif baru diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Dimana pengiriman ke AS mencapai puncaknya sejak September 2022, dengan lonjakan ekspor ke Asia Tenggara juga mencatat rekor baru.
Mengutip Bloomberg, Rabu (11/12/2024), perusahaan China nampaknya mengalihkan proses produksi ke kawasan Asia Tenggara sebagai strategi menghadapi tarif yang direncanakan diterapkan pada 20 Januari mendatang, di bawah administrasi Trump.
Sehingga secara tidak langsung langkah tersebut mencerminkan respons terhadap ancaman tarif tambahan sebesar 10% untuk barang dari China, yang akan memperumit lanskap perdagangan global.
Sehingga secara tidak langsung langkah tersebut mencerminkan respons terhadap ancaman tarif tambahan sebesar 10% untuk barang dari China, yang akan memperumit lanskap perdagangan global.
Meski penjualan ekspor yang kuat menjadi titik terang bagi ekonomi China, banyak negara mulai mempertimbangkan langkah proteksionis untuk melindungi pasar domestik mereka dari produk murah asal China.
Bahkan para ekonom mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada ekspor tidak cukup untuk menopang ekonomi. Beijing didesak mengadopsi kebijakan yang lebih berorientasi pada konsumen guna mengurangi ketidakseimbangan perdagangan yang dapat memperburuk tensi dagang global.
Selain tantangan eksternal, penurunan impor sebesar 4% mengungkapkan lemahnya permintaan domestik. Tentunya hal ini menegaskan bahwa krisis properti dan kepercayaan konsumen yang rendah menjadi kendala besar bagi ekonomi domestik, yang tahun ini bergantung pada manufaktur dan ekspor.
“Ke depan, langkah percepatan pengiriman oleh importir AS untuk mengantisipasi kenaikan tarif barang China dapat menjaga ekspor tetap kuat dalam beberapa bulan mendatang, pola yang juga terlihat sebelum gelombang tarif pertama pada masa jabatan pertama Trump. Dimana ekonomi China membutuhkan dukungan, terutama karena penurunan impor yang lebih besar dari perkiraan menunjukkan permintaan domestik belum merespons stimulus yang lebih kuat,” ujar ekonom dari Bloomberg Economics, Eric Zhu.
Stimulus pemerintah sebagian besar diarahkan pada sektor infrastruktur dan manufaktur seperti kendaraan listrik dan energi surya, tetapi dampaknya terhadap konsumsi domestik belum terlihat jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 4Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 8India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









