Akurat Logo

Larangan Ekspor Mineral dari China Jadi Ancaman Industri Pertahanan AS

Demi Ermansyah | 7 Desember 2024, 17:07 WIB
Larangan Ekspor Mineral dari China  Jadi Ancaman Industri Pertahanan AS

AKURAT.CO Keputusan China untuk melarang ekspor mineral strategis seperti galium, germanium, dan antimon ke Amerika Serikat telah menambah babak baru dalam konflik perdagangan kedua negara. Langkah ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga menjadi ancaman besar bagi teknologi dan pertahanan AS.

Galium dan germanium memiliki peran penting dalam industri semikonduktor, yang menjadi jantung perkembangan teknologi modern, mulai dari perangkat elektronik hingga kendaraan otonom. Selain itu, germanium juga digunakan dalam teknologi inframerah dan kabel serat optik, sementara antimon menjadi komponen utama dalam amunisi dan peralatan militer canggih lainnya.

Menurut Direktur Project Blue, Jack Bedder langkah yang diambil oleh China dalam membalas berbagai sanksi tarif yang dikenakan oleh AS memperlihatkan bagaimana negara tersebut menggunakan dominasi produksinya untuk mempengaruhi rantai pasokan global.

Baca Juga: Memanas, Giliran China Batasi Ekspor Sejumlah Material Super Keras ke AS

"Jika kita mengacu kepada data terbaru, menunjukkan bahwa pada 2024, China menyumbang hampir 60% produksi germanium olahan dan lebih dari 98% produksi galium olahan dunia," paparnya melalui lansiran Reuters.

Secara tidak langsung, tambahnya, larangan ekspor ini menjadi sinyal bagi AS untuk mempercepat pengembangan sumber daya mineral domestiknya. Namun, upaya ini tak akan mudah. Satu-satunya tambang nikel AS, misalnya, diperkirakan akan habis pada 2028. 
 
"Dalam situasi ini, perusahaan seperti Perpetua Resources telah berupaya keras mengembangkan tambang mineral dalam negeri, meski menghadapi tantangan regulasi dan investasi," ucapnya.

Di sisi lain, kebijakan ini juga memperlihatkan pentingnya diversifikasi rantai pasokan global. Gedung Putih telah menggarisbawahi perlunya kerja sama dengan negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada China. Namun, langkah ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Keputusan China ini juga muncul di tengah upaya terbaru Washington untuk membatasi ekspor teknologi ke perusahaan-perusahaan China. “Tidak mengherankan jika China merespons dengan pembatasan yang setara terhadap mineral strategis,” ucapnya.

Hingga ada akhirnya, langkah ini menegaskan bahwa kontrol atas sumber daya alam menjadi medan pertempuran baru dalam konflik global. "Bagi AS, tantangannya adalah bagaimana memastikan keberlanjutan teknologi dan kekuatan militernya di tengah dominasi China dalam rantai pasokan mineral strategis," jelasnya.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.