Diduga Bantu Rusia, AS Siapkan Sanksi Baru Untuk Bank Negara China
Demi Ermansyah | 22 Juli 2024, 12:50 WIB

AKURAT.CO Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan mengungkapkan bahwa Pemerintahanya sedang merencanakan pengenaan sanksi baru terhadap sejumlah entitas China yang mendukung Rusia dalam perang di Ukraina, dimana AS akan menargetkan bank-bank negara tersebut.
"Kami berpandangan bahwa China harus menghentikan pembelaan terhadap Rusia, sebab hal ini sudah melampaui batas perilaku wajar antar negara," ujar Sullivan melalui lansiran Reuters.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa sanksi tambahan akan segera diberlakukan dalam beberapa minggu ke depan.
Pernyataan Sulivan tersebut usut punya usut sesuai dengan keputusan Joe Biden pada tahun lalu yang memungkinkan Departemen Keuangan untuk menindak atau memberikan sanksi kepada bank-bank sebuah negara yang memfasilitasi barang-barang dengan kegunaan ganda yang mendukung industri pertahanan Rusia.
Pernyataan Sulivan tersebut usut punya usut sesuai dengan keputusan Joe Biden pada tahun lalu yang memungkinkan Departemen Keuangan untuk menindak atau memberikan sanksi kepada bank-bank sebuah negara yang memfasilitasi barang-barang dengan kegunaan ganda yang mendukung industri pertahanan Rusia.
"Kami merancang kebijakan ini agar kami dapat mengidentifikasi bank yang memenuhi syarat untuk dikenakan sanksi, dan kami dapat melakukannya, meskipun begitu kami tidak bisa memprediksi saat ini, tetapi kami telah menyiapkan langkah-langkah untuk bertindak terhadap perilaku tersebut, dan kami pasti akan bertindak," lanjutnya.
Baca Juga: Perang Dagang Memanas Lagi, China Minta Bantuan WTO Urus AS
Seperti yang diketahui pernyataan Sulivan tersebut merupakan peringatan terbaru bahwa pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk menghentikan entitas yang mereka anggap sebagai perusahaan China yang membantu industri pertahanan Rusia yang bangkit kembali setelah terkena sanksi dari negara-negara Barat.
AS menyatakan bahwa China belum memberikan bantuan mematikan langsung kepada Rusia, tetapi para pemimpin NATO minggu lalu menyebut China sebagai "penggerak utama" perang Rusia.
Meski pejabat senior AS lainnya seperti Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Keuangan Janet Yellen telah memperingatkan China tentang kemungkinan sanksi ini, pernyataan Sullivan menunjukkan bahwa langkah-langkah baru ini akan segera diterapkan.
Negara-negara sekutu Barat semakin khawatir bahwa Beijing akan segera memberikan bantuan langsung berupa produk mematikan. Sektor yang paling diperhatikan adalah perusahaan China dan Rusia yang mengembangkan drone serang serupa dengan model buatan Iran yang digunakan di Ukraina.
Beijing selalu responsif ketika AS memberikan bukti transaksi keuangan yang melanggar sanksi terhadap Rusia, tetapi menurut Sullivan, "secara realitas, situasinya tidak membaik," karena perusahaan China terus membantu mesin perang Rusia.
Seperti yang diketahui pernyataan Sulivan tersebut merupakan peringatan terbaru bahwa pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk menghentikan entitas yang mereka anggap sebagai perusahaan China yang membantu industri pertahanan Rusia yang bangkit kembali setelah terkena sanksi dari negara-negara Barat.
AS menyatakan bahwa China belum memberikan bantuan mematikan langsung kepada Rusia, tetapi para pemimpin NATO minggu lalu menyebut China sebagai "penggerak utama" perang Rusia.
Meski pejabat senior AS lainnya seperti Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Keuangan Janet Yellen telah memperingatkan China tentang kemungkinan sanksi ini, pernyataan Sullivan menunjukkan bahwa langkah-langkah baru ini akan segera diterapkan.
Negara-negara sekutu Barat semakin khawatir bahwa Beijing akan segera memberikan bantuan langsung berupa produk mematikan. Sektor yang paling diperhatikan adalah perusahaan China dan Rusia yang mengembangkan drone serang serupa dengan model buatan Iran yang digunakan di Ukraina.
Beijing selalu responsif ketika AS memberikan bukti transaksi keuangan yang melanggar sanksi terhadap Rusia, tetapi menurut Sullivan, "secara realitas, situasinya tidak membaik," karena perusahaan China terus membantu mesin perang Rusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









