Akurat Logo

OECD Kembali Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 2,2 persen di 2023

Ainur Rahman | 27 September 2022, 18:00 WIB
OECD Kembali Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 2,2 persen di 2023

AKURAT.CO, Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) beberapa waktu lalu menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2023 sekaligus memperingatkan bahwa banyak negara Eropa dapat menghadapi resesi di tahun yang akan datang.

Dalam sebuah laporan sementara OECD yang dirilis pada Senin (26/9/2022) lalu merevisi perkiraan pertumbuhan PDB global dari 2,8 persen menjadi 2,2 persen dimana penurunan tersebut diakibatkan oleh "agresi Rusia terhadap Ukraina."

Tak hanya itu saja, lanjut isi laporan tersebut, PDB dunia di tahun depan akan berada dikisaran USD2,8 triliun lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

“Secara keseluruhan, guncangan ini dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Eropa lebih dari 1,25 poin persentase pada 2023, relatif terhadap baseline, dan meningkatkan inflasi lebih dari 1,5 poin persentase,” tulis hasil laporan OECD.

Diversifikasi pasokan yang tidak mencukupi dan pengurangan permintaan dapat menyebabkan kekurangan yang akan mendorong harga energi, mengurangi kepercayaan dan kondisi keuangan, dan mengharuskan bisnis untuk sementara menjatah penggunaan gas mereka, tambah laporan itu.

"Tentunya ini akan mendorong banyak negara Eropa ke dalam resesi pada tahun 2023 mendatang," tulisnya.

Tak sampai disitu OECD juga menambahkan bahwa inflasi global akan meningkat lebih dari 0,5 poin persentase pada tahun 2023, dengan pertumbuhan yang turun hanya di bawah 0,5 poin persentase.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia ?

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023 masih suram. Bahkan BI memproyeksikan risiko penurunan ekonomi global masih terbuka lebar.

Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2023 hanya sebesar 2,6% secara tahunan atau year on year (yoy), atau lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan pada tahun 2022 yang sebesar 2,7% yoy.

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah didorong oleh tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

"Masih terjadi disrupsi rantai pasok global, adanya proteksionisme di berbagai negara, ketegangan politik, dan respons kebijakan suku bunga yang agresif di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara," terangnya.

Lebih lanjut dirinya memerinci, ketegangan politik diperkirakan masih terjadi pada tahun depan. Ini masih akan menyebabkan gangguan mata rantai pasok global, sehingga mendorong harga energi untuk tetap bertahan tinggi.

Belum lagi risiko penurunan volume perdagangan dunia karena perlambatan ekonomi global dan juga kebijakan proteksionisme yang ditetapkan oleh beberapa negara untuk melindungi perekonomian dalam negeri.

Nah, tekanan inflasi pun diperkirakan akan berlanjut di negara maju maupun negara berkembang. Bahkan, inflasi inti berada dalam tren peningkatan sehingga mendorong bank-bank sentral di banyak negara melanjutkan pengetatan kebijakan moneter yang agresif.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.