Akurat Logo

ICAEW Ramal Ekonomi RI 2022 Tumbuh 5,7 Persen, Ini Faktornya Pendukungnya!

Audit Temp | 24 Juni 2022, 19:00 WIB
ICAEW Ramal Ekonomi RI 2022 Tumbuh 5,7 Persen, Ini Faktornya Pendukungnya!

AKURAT.CO, Pasca didera pandemi COVID-19, wilayah Asia Tenggara kini mulai melihat pemulihan ekonomi, meski tidak berlangsung secara merata. Ditambah lagi, saat ini terdapat berbagai tantangan eksternal dari luar kawasan yang kian meningkat. 

Meskipun demikian, para ahli mengungkapkan pada ICAEW Economic Insight Forum Q2, bahwa wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan melihat pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar 5,8 persen.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan PDB di tahun 2022 sebesar 5,7 persen, meningkat dibandingkan periode tahun lalu sebesar 3,7 persen.

Jumlah tersebut selaras dengan angka pertumbuhan PDB yang dialami oleh wilayah Asia Tenggara secara keseluruhan.

"Peningkatan ini menjadi indikator yang menunjukkan kemampuan perekonomian Indonesia untuk kembali bangkit pasca pandemi, dimana kini telah bertransisi menuju masa endemi," ujar Managing Director International ICAEW, Mark Billington dalam pembukaan ICAEW Economic Insight Forum Q2, Jumat (24/6/22).

Ia menjelaskan, pertumbuhan yang perlahan membaik ini didukung oleh sektor ritel dan layanan akomodasi di Indonesia yang telah mencapai titik puncak pemulihan positif pada Mei 2022, yang mana dengan adanya pelonggaran kebijakan-kebijakan pembatasan.

Lebih dari itu, lanjutnya, pemulihan perekonomian Indonesia pada sektor ritel dan layanan akomodasi juga dinilai cukup dinamis sejak memasuki Q4 2021 hingga saat ini.

"Permintaan akan jumlah pemasaran pada sektor ritel Indonesia juga dinilai cukup unggul dan mulai stabil di tahun 2022 dibandingkan wilayah Asia Tenggara lainnya," imbuhnya.

Selain itu, meski terdapat hambatan dalam pemulihan perekonomian seperti gangguan pada rantai pasok dan lemahnya permintaan dari China karena aturan karantina wilayah, Indonesia tetap berhasil mempertahankan nilai ekspor ke wilayah China secara stabil.

"Peningkatan ini menjadi indikator yang menunjukkan kemampuan perekonomian Indonesia untuk kembali bangkit pasca pandemi, dimana kini telah bertransisi menuju masa endemi," jelas Managing Director International ICAEW, Mark Billington dalam keterangan resminya, Jumat (24/6/2022). 

Ia menuturkan pertumbuhan yang perlahan membaik ini didukung oleh sektor ritel dan layanan akomodasi di Indonesia yang telah mencapai titik puncak pemulihan positif pada Mei 2022 dengan pelonggaran kebijakan-kebijakan pembatasan. 

Menurutnya, pemulihan perekonomian Indonesia pada sektor ritel dan layanan akomodasi juga dinilai cukup dinamis sejak memasuki Q4 2021 hingga saat ini. 

Permintaan akan jumlah pemasaran pada sektor ritel Indonesia juga dinilai cukup unggul dan mulai stabil di tahun 2022 dibandingkan wilayah Asia Tenggara lainnya.

"Meski terdapat hambatan dalam pemulihan perekonomian seperti gangguan pada rantai pasok dan lemahnya permintaan dari China karena aturan karantina wilayah, Indonesia tetap berhasil mempertahankan nilai ekspor ke wilayah China secara stabil," katanya.

Hal ini membantu Indonesia untuk dapat memulihkan perekonomian dengan tetap berjalannya kegiatan ekspor dari produk dalam negeri. 

Dibukanya perbatasan dan pelonggaran pembatasan perjalanan juga memberikan peluang besar bagi ekonomi pariwisata Indonesia untuk dapat kembali bangkit.Terjadinya peningkatan yang signifikan ini dapat dilihat dari besarnya persentase perekonomian pariwisata Indonesia yang diprediksi akan mencapai 35 persen pada tahun 2022. 

Peningkatan ini dinilai cukup baik dalam proses pemulihan wilayah jika dibanding dengan data perekonomian pariwisata Indonesia pada tahun 2021 yang berada di titik persentase sebesar 10 persen.

Markn menambahkan, meskipun dampak langsung dari Perang Rusia-Ukraina di Asia Tenggara terbatas, wilayah ini tetap terkena imbas melalui inflasi dan respon kebijakan moneter tingkat global.

"Kebijakan Nol Covid China juga telah memicu efek domino yang berdampak negatif pada sektor manufaktur, industri, dan pariwisata di wilayah tersebut," imbuhnya.

Oleh sebab itu Mark menyatakan bahwa tanpa diragukan, faktor eksternal ini akan cukup meredam tetapi tidak akan sampai menghentikan laju pertumbuhan ekonomi.

"Karena kami berharap pemulihan di sektor jasa akan terlihat bersamaan dengan adaptasi pola hidup yang menyesuaikan situasi Covid," ujarnya.

Lebih lanjut Mark mmengatakan, meskipun pemulihan ekonomi pasca COVID di wilayah Asia Tenggara tidak merata dengan hadirnya varian Delta, sebagian besar negara-negara seperti Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam mulai melihat kembalinya tingkat PDB dengan level yang setara sebelum terjadinya pandemi – kecuali Thailand, yang pertumbuhannya masih 2% di bawah tingkat pra-pandemi, dikarenakan industri pariwisatanya masih terus berjuang dengan pembatasan perjalanan dan mobilitas.

Hambatan-hambatan eksternal seperti gangguan rantai pasok, lemahnya permintaan dari China (dengan adanya aturan karantina wilayah), serta dampak dari berlangsungnya perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi tingkat inflasi dan harga komoditas di Asia Tenggara. 

Meskipun  ICAEW Economic Insight cukup optimis, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara sebesar sekitar 5,8% atau naik 3,7% dari tahun lalu. Hal ini diprediksi dapat terjadi karena dorongan di sektor pariwisata ekonomi dari pembukaan perbatasan serta pelonggaran peraturan perjalanan.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.