FAO Peringatkan Lockdown dan Panic Buying Picu Inflasi Pangan Dunia

AKURAT.CO Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan, lockdown dan panic buying akibat pandemi virus corona dapat memicu inflasi pangan dunia.
"Krisis pangan ini bisa terjadi karena ada panic buying dari negara importir pangan maupun pabrik makanan dan minuman," kata ekonom senior FAO Abdolreza Abbassian, sebagaimana dilansir dari laman Reuters, Jakarta, Senin (23/3/2020).
Ia mengatakan, krisis pangan terjadi bukan sekadar masalah pasokan, tetapi ada perubahan perilaku terhadap keamanan pangan di mana adanya faktor psikologi yang menciptakan pembelian besar-besaran yang menyebabkan harga melonjak naik.
"Bagaimana jika para importir berpikir mereka tidak bisa mendapatkan pengiriman gandum atau beras pada Mei atau Juni? Itulah yang dapat menyebabkan krisis pasokan pangan global," ucapnya.
Seperti diketahui, masyarakat di seluruh dunia telah melakukan panic buying di toko ritel beberapa minggu terakhir dengan memborong persediaan mulai dari beras dan cairan pembersih tangan hingga kertas toilet.
Menurut laporan pasar saham global Chicago saat ini saham gandum naik lebih dari 6 persen minggu ini, kenaikan mingguan terbesar dalam sembilan bulan. Sementara harga beras di Thailand, yang merupakan eksportir terbesar ke-2 dunia, telah naik ke level tertinggi sejak Agustus 2013.
Saat ini, industri biji-bijian di Prancis kesulitan dalam distribusi untuk menopang operasi karena masyarakat memborong pasta dan tepung bertepatan dengan lonjakan ekspor gandum.
Kemudian, hal tersebut diperparah dengan lockdown yang diberlakukan oleh beberapa negara Uni Eropa di perbatasan mereka yang mengganggu pasokan pangan untuk masuk.
Meski demikian, stok gandum global pada Juni diproyeksikan naik menjadi 287,14 juta ton, naik dari 277,57 juta ton tahun lalu, menurut perkiraan Departemen Pertanian AS (USDA).
Stok beras dunia diproyeksikan 182,3 juta ton dibandingkan dengan 175,3 juta ton tahun lalu.
Seperti diketahui, negara-negara maju di dunia telah mencurahkan bantuan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam ekonomi global ketika kasus-kasus virus Corona merebak di seluruh Eropa dan Amerika Serikat, dengan jumlah kematian di Italia melebihi yang ada China, tempat virus itu berasal. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 2Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 8Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja



