Perang Dagang Memasuki Babak Baru, Rantai Pasok Global Terganggu
Demi Ermansyah | 22 April 2025, 11:18 WIB

AKURAT.CO Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan negara-negara mitra dagangnya kian memuncak, dan dampaknya mulai terlihat dalam bentuk yang lebih kompleks.
Mengacu kepada data ekspor Korea Selatan yang dikutip dari laman Bloomberg, pada 20 hari pertama April menunjukkan penurunan sebesar 5,2%, namun lebih dari sekadar angka, penurunan ini mencerminkan gangguan yang lebih luas dalam rantai pasok global.
Kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump, termasuk tarif baru sebesar 25% untuk kendaraan dan 10% untuk komoditas lainnya, telah memukul ekspor Korsel ke AS hingga turun 14,3%. Namun para ekonom melihat bahwa efek terbesar dari kebijakan ini justru terjadi secara tidak langsung.
“Dampak tidak langsung melalui rantai pasok global berpotensi lebih merusak. Ketika negara-negara lain yang menjadi mitra dagang AS terkena tarif, permintaan terhadap komponen atau bahan baku dari Korea juga ikut menurun," kata ekonom Bloomberg Economics, Hyosung Kwon.
Salah satu sektor yang masih mencatat kenaikan adalah semikonduktor, yang naik 10,7%. Namun, para analis mengingatkan bahwa ini bisa menjadi fenomena sementara.
“Permintaan chip kelas atas masih kuat karena ada pengecualian tarif sementara. Tapi pasar chip konvensional kemungkinan akan melemah karena gangguan rantai pasok,” tambahnya kembali.
Sebagai contoh, lanjut Hyosung, jika sebuah pabrikan mobil di Eropa atau Jepang mengurangi produksi karena beban tarif, maka permintaan terhadap cip atau komponen elektronik dari Korsel akan ikut menurun.
"Sehungga hal tersebut, meskipun Korsel tidak dikenai tarif langsung untuk beberapa produk, mereka tetap terkena dampaknya," paparnya.
Sedangkan jika dilihat dari sisi Internalnya, Korea Selatan saat ini sedang menghadapi ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden pada 3 Juni. Hal ini membuat respons kebijakan terhadap krisis dagang menjadi lebih lambat.
Pejabat pemerintah tengah berupaya merundingkan kesepakatan dagang dengan AS, namun waktu yang terbatas menjadi kendala besar.
“Kami memahami pentingnya AS sebagai mitra dagang, namun proses negosiasi bisa memakan waktu, sementara tekanan ekonomi sudah terasa sekarang,” ujar seorang pejabat Kementerian Keuangan.
Bukan hanya ekspor yang tertekan, data juga menunjukkan bahwa impor Korea Selatan turun 11,8%, menyebabkan defisit perdagangan sebesar USD100 juta. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh turunnya permintaan domestik akibat ketidakpastian global.
Produk minyak mengalami penurunan ekspor terbesar, yakni sebesar 22%, sementara ekspor baja anjlok 8,7%. Ini menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan tidak hanya berdampak ke satu sektor, melainkan menyebar ke seluruh lapisan ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 520 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 6Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya








