China Turunkan Tarif Impor, Genjot Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Demi Ermansyah | 28 Desember 2024, 19:18 WIB

AKURAT.CO China beberapa waktu lalu kembali mengeluarkan kebijakan strategisnya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi domestik yang masih lesu di tengah tekanan ekonomi global.
Dimana Kementerian Keuangan China mengumumkan perubahan tarif impor pada berbagai barang yang ditujukan untuk meningkatkan permintaan dalam negeri dan memperluas keterbukaan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa China ingin memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan internasional. Dengan menyesuaikan tarif untuk 935 produk, China berharap dapat memperluas akses pasar sekaligus menarik lebih banyak mitra dagang.
Baca Juga: Pulihkan Ekonomi, China Siapkan Langkah Besar-besaran
"Kebijakan ini tidak hanya tentang tarif, tetapi juga tentang bagaimana China membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat," ujar seorang ekonom perdagangan dari Beijing melalui lansiran Reuters, dikutip Jumat (28/12/2024).
"Kebijakan ini tidak hanya tentang tarif, tetapi juga tentang bagaimana China membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat," ujar seorang ekonom perdagangan dari Beijing melalui lansiran Reuters, dikutip Jumat (28/12/2024).
Selain bahan baku industri, produk seperti polimer olefin siklik, kopolimer etilena-vinil alkohol, dan transmisi otomatis untuk kendaraan khusus juga akan dikenakan tarif lebih rendah. Langkah ini diharapkan dapat mendukung inovasi teknologi di sektor manufaktur dan otomotif China.
Sebaliknya, tarif untuk komoditas seperti molase dan bubuk pracampur yang mengandung gula akan dinaikkan. Hal ini mencerminkan fokus China untuk mengatur keseimbangan antara kebutuhan impor dan produksi lokal.
Sebaliknya, tarif untuk komoditas seperti molase dan bubuk pracampur yang mengandung gula akan dinaikkan. Hal ini mencerminkan fokus China untuk mengatur keseimbangan antara kebutuhan impor dan produksi lokal.
Menariknya, perubahan tarif ini juga bertepatan dengan pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas antara China dan Maladewa mulai 1 Januari. Perjanjian ini akan memberikan pengurangan tarif pada berbagai barang, memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Dengan adanya perjanjian ini, China tidak hanya memperluas jaringan perdagangan, tetapi juga memberikan peluang bagi pelaku bisnis domestik untuk menjalin kemitraan dengan pasar luar negeri.
Pengurangan tarif di sektor tertentu akan mendorong peningkatan daya saing industri lokal. Namun, kebijakan ini juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Langkah China ini menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat memanfaatkan kebijakan perdagangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan global. Dengan strategi yang tepat, kebijakan ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi dan ketidakpastian global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








