AS Dibayangi Resesi, Harga Minyak Global Terjun 1 Persen

AKURAT.CO Harga minyak jatuh pada pekan ini, seiring dengan aksi jual di pasar saham yang dipicu oleh kekhawatiran resesi di Amerika Serikat (AS), meskipun penurunan ini terbatas oleh gangguan pasokan dari Libya dan kekhawatiran tentang konflik yang meluas di Timur Tengah.
Seperti yang diketahui, sebelumnya pada Senin (5/8/2024) lalu, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Oktober 2024 turun 76 sen atau 1,0% menjadi USD76,05 per barel, setelah sebelumnya diperdagangkan di sekitar level terendah sejak Januari.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2024 turun 77 sen atau 1,1% menjadi USD72,75 per barel.
Melansir dari Reuters, pasar saham di seluruh Asia jatuh karena kekhawatiran resesi di AS membuat investor menjauhi aset berisiko, sambil bertaruh bahwa pemangkasan suku bunga yang cepat akan diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kekhawatiran pasokan membantu membatasi penurunan harga. Ladang minyak terbesar di Libya, Sharara, telah menghentikan produksi sepenuhnya, menurut laporan Bloomberg. Dua teknisi lapangan mengatakan kepada Reuters pada hari Sabtu bahwa pengunjuk rasa lokal telah menutup sebagian lokasi tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Global Naik Tipis Imbas Meredanya Tekanan Inflasi AS
Kekhawatiran resesi di AS, yang dipicu oleh laporan penggajian bulan Juli yang lemah pada hari Jumat, "hanya menambah kekhawatiran permintaan China yang telah berlangsung di pasar minyak selama beberapa waktu," kata analis ING yang dipimpin oleh Warren Patterson dalam sebuah catatan.
Penurunan konsumsi solar di China, yang merupakan kontributor terbesar dunia terhadap pertumbuhan permintaan minyak, juga membebani harga minyak. Penurunan harga minyak ini mengikuti penurunan di pasar saham Eropa.
Penurunan harga minyak juga dibatasi oleh risiko geopolitik di Timur Tengah. Pertempuran di Gaza berlanjut pada hari Minggu, sehari setelah putaran perundingan gencatan senjata yang gagal di Kairo.
Israel dan AS bersiap menghadapi eskalasi serius di kawasan tersebut setelah Iran dan sekutunya Hamas dan Hizbullah berjanji akan membalas Israel atas pembunuhan pemimpin Hamas dan seorang komandan militer Hizbullah minggu lalu.
"Risiko perang regional yang lebih luas, meskipun menurut saya masih kecil, tidak dapat diabaikan," kata analis pasar IG yang berbasis di Sydney, Tony Sycamore.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 4Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 5Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Hasil dan Klasemen Liga Champions: Como Tenggelamkan MU, Real Madrid Merangsek ke 3 Besar
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot









