Akurat Logo

Lagi, Rupiah Ambles 50 Poin ke Rp15.643 Usai Rilis Data PDB China

M. Rahman | 17 Januari 2024, 17:16 WIB
Lagi, Rupiah Ambles 50 Poin ke Rp15.643 Usai Rilis Data PDB China

AKURAT.CO Rupiah kembali ditutup melemah 50 poin ke level Rp15.643 pada perdagangan Rabu, 17 Januari 2024 usai rilis data PDB China yang lebih rendah dari perkiraan.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, rilis Produk Domestik Bruto atau PDB China pada kuartal keempat 2023 tumbuh sedikit lebih rendah dari perkiraan, yaitu sebesar 5,2%. Pertumbuhan PDB tahunan mencapai 5,2%, mengalahkan target Beijing sebesar 5% pada tahun 2023. Namun sebagian besar pertumbuhan ini didorong oleh dasar perbandingan yang lebih rendah dari tahun 2022.

Baca Juga: Rupiah Turun 37 Poin ke Rp15.592 Jelang Rilis Data PDB China

Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi terbesar di Asia ini masih berjuang untuk menopang pertumbuhan dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, di tengah tekanan yang terus-menerus dari belanja konsumen yang lemah, lesunya investasi swasta, dan krisis sektor properti yang sedang berlangsung.

Selain itu, di AS Gubernur Fed Christopher Waller mengisyaratkan pendekatan hati-hati terhadap penurunan suku bunga dan mengatakan bahwa ketahanan ekonomi AS saat ini kemungkinan akan menunda potensi penurunan suku bunga.

"Komentarnya mengirim dolar ke level tertinggi dalam satu bulan, dan juga memicu lonjakan tajam dalam imbal hasil Treasury, dengan tingkat suku bunga 10-tahun melewati angka 4 persen," ujar Ibrahim dikutip Rabu (17/1/2024).

Isyarat ekonomi AS lainnya menunggu karena para pedagang memangkas perkiraan penurunan suku bunga di bulan Maret Pasar sekarang fokus pada data produksi industri dan penjualan ritel bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Rabu.

Setiap tanda-tanda kekuatan ekonomi AS, khususnya belanja konsumen, memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Pedagang terlihat sedikit mengurangi taruhan mereka terhadap penurunan suku bunga bank sentral pada bulan Maret, menurut alat CME Fedwatch. Pasar melihat peluang 62,8% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin, turun dari 66,1% yang terlihat sehari sebelumnya.

Sentimen Internal Rupiah

Dalam pertemuan Siang ini, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan (BI-Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2024 di level 6%.  Keputusan menahan suku bunga ini seiring dengan fokus kebijakan moneter yang pro stabilitas. Selain itu, ini merupakan langkahpre emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3% plus minus 1% pada 2023 dan 2,5% plus minus 1% pada tahun 2024. 

Ada beberapa alasan BI mempertahankan suku bunga cauannya. Diantaranya, ketidakpastian global masih tetap tinggi. Tekanan inflasi di negara maju terutama Amerika Serikat (AS) yang berlanjut menimbulkan ketidakpastian terkait dengan arah suku bunga kebijakan global ke depan.

Tercatat, inflasi AS pada Desember 2023 mencapai 3,4% secara tahunan,naik dari 3,1% pada November 2023. Penurunan harga energi global, tertahan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terkait gangguan di Laut Merah.

Sementara itu, perkembangan ekonomi terus menunjukkan ketahanan. Tingkat inflasi misalnya, terkendali dan tercatat rendah sebesar 2,61% pada akhir 2023. Di sisi sektor eksternal, surplus perdagangan Indonesia bertahan hingga akhir 2023, di mana pada Desember mencapai USD3,3 miliar, naik dari USD2,4 miliar pada bulan sebelumnya. 

Berlanjutnya surplus perdagangan tersebut berhasil mendukung cadangan devisa yang mencapai USD146,4 miliar pada akhir 2023.  Oleh karena itu, nilai tukar rupiah berhasil menguat sebesar 1,11% dari akhir 2022 menjadi Rp15.397 per dolar AS pada akhir 2023. Sementara itu, pada pekan kedua Januari 2024, rupiah cenderung bergerak sideways di kisaran Rp15.400-Rp15.600 per dolar AS.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa