Akurat Logo

RI Surplus Perdagangan USD36,9 M di 2023, Ini Negara Penyumbang Cuan Terbesar

M. Rahman | 15 Januari 2024, 14:25 WIB
RI Surplus Perdagangan USD36,9 M di 2023, Ini Negara Penyumbang Cuan Terbesar

AKURAT.CO Sepanjang 2023 lalu Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan USD36,93 miliar, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik atau BPS.

Surplus perdagangan 2023 lebih rendah USD17,52 miliar (32,17%) dibandingkan posisi 2022 yang sebesar USD54,46 miliar. Adapun surplus dagang 2023 didapat dari eskpor sebesar USD258,2 miliar dan impor sebesar USD221,8 miliar.

Ekspor 2023 tercatat turun 11,33% secara tahunan, dibandingkan posisi 2022 yang sebesar USD291,90 miliar. Pun impor 2023 yang turun 6,55% secara tahunan dibanding posisi 2022 sebesar USUSD237,45 miliar. 

Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus USD3,31 M di Desember 2023

Secara rinci, ekspor migas pada 2023 mencapai USD15,92 miliar dan nonmigas sebesar USD242,89 miliar, turun secara tahunan masing-masing 0,47% dan 11,96%. Sementara impor migas pada 2023 tembus USD35,83 miliar dan nonmigas tembus USD186,06 miliar, turun secara tahunan masing-masing 11,35% dan 5,57%.

Lalu negara mana saja yang menjadi penyumbang cuan perdagangan Indonesia sepanjang 2023 lalu?

Meski tak merinci negara tujuan dan asal ekspor/impor komoditas migas, BPS merinci negara tujuan dan asal ekspor/ impor untuk komoditas nonmigas dari 13 negara utama mitra dagang RI.

Untuk tujuan ekspor nonmigas senilai USD242,89 miliar sepanjang Januari–Desember 2023 lalu, China tetap menjadi negara tujuan ekspor yang memiliki peranan terbesar dengan nilai USD62,33 miliar (25,66%), diikuti Amerika Serikat senilai USD23,24 miliar (9,57%), dan India USD20,28 miliar (8,35%).

Komoditas utama yang diekspor ke China pada periode tersebut adalah besi/baja, lignit, dan batubara. Sementara itu ekspor ke kawasan ASEAN dan Uni Eropa pada periode tersebut kontribusinya masing-masing 18,35% dan 6,78%.

Sementara untuk asal impor nonmigas senilai USD186,06 miliar sepanjang Januari-Desember 2023 lalu, kontribusi tertinggi juga masih didominasi oleh China sebesar USD62,18 miliar (33,42%), diikuti oleh Jepang senilai USD16,44 miliar (8,84%) dan Thailand senilai USD10,14 miliar (5,45%).

Kontribusi yang cukup tinggi juga berasal dari kelompok negara ASEAN senilai USD31,05 miliar (16,69%) dan Uni Eropa senilai USD14,08 miliar (7,53%). 

Surplus Perdagangan Dengan China

Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan China sebesar USD153,1 juta pada tahun 2023. Tercatat, di era Presiden Jokowi nilai dagang RI dengan China terus meningkat dari USD48,23 miliar pada 2014 atau era berakhirnya ACFTA (ASEAN-ChinaFree Trade Area) menjadi USD124,5 miliar pada 2023 lalu. 

Searah, defisit dagang dengan China pun berangsung membaik. Tercatat RI defisit dengan China sekitar USD13 miliar hingga puncaknya sebesar USD18,41 miliar sepanjang 2014-2018. Kemudian khusus di Desember saja di tahun 2019-2021, RI masih defisit dagang dengan China di kisaran USD1 miliar. Sepanjang 2021 bahkan defisit USD2,4 miliar. Namun pada Desember 2022, Indonesia mampu mencetak surplus USD17,2 juta meski sepanjang 2022 masih defisit USD1,88 miliar.

Adapun rata-rata nilai ekspor dan impor RI ke dan dari China mencapai USD5-6 miliar per bulan, berdasarkan data BPS. Dinamika ini tak lepas dari perubahan kebijakan China sejak era pandemi di mana China melakukan pengetatan besar-besaran yang ikut menggoyang ekonominya serta kebijakan hilirisasi mineral.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa