Korea Selatan Rilis Prediksi Laporan Ekonomi Korea Utara, Terjadi Krisis Terburuk dalam 23 Tahun

AKURAT.CO, Ekonomi Korea Utara mengalami kontraksi terbesar dalam 23 tahun pada 2020, menurut pernyataan bank sentral Korea Selatan pada Jumat (30/7). Hal ini diakibatkan oleh sanksi PBB yang tak kunjung dicabut, keputusan lockdown COVID-19, dan cuaca buruk.
Dilansir dari Reuters, Bank Korea (BOK) membeberkan perkiraan laporan ekonomi paling masuk akal di Korea Utara. Namun, para ahli lainnya memiliki penilaian berbeda.
Menurut BOK, produk domestik bruto (PDB) Korea Utara berkontraksi 4,5 persen tahun lalu. Angka ini merupakan yang terburuk sejak 1997 dan membalikkan pertumbuhan 0,4 persen pada 2019, ekspansi pertama dalam 3 tahun.
BOK juga membeberkan bahwa volume perdagangan Korea Utara anjlok 73,4 persen menjadi USD 860 juta (Rp12 triliun) tahun lalu. Ekspor barang-barang yang tak dikenai sanksi, termasuk jam tangan dan rambut palsu, masing-masing turun 86,3 persen dan 92,7 persen.
"Volume perdagangan yang menempati berkontribusi sekitar 21,9 persen terhadap PDB pada 2016 berkurang tajam menjadi 2,9 persen pada 2020 setelah terdampak lockdown COVID-19 sekaligus sanksi ekonomi," terang pejabat BOK.
Data BOK pada Jumat (30/7) pun menunjukkan bahwa hasil industri yang menyumbang 28 persen dari ekonomi Korea Utara turun 5,9 persen. Sementara itu, hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan merosot 7,6 persen. Sektor jasa yang menyumbang sepertiga dari ekonominya juga menyusut 4,0 persen.
Di sisi lain, Kim Byeong-yeon, seorang profesor ekonomi di Universitas Nasional Seoul yang berspesialisasi tentang Korea Utara, memperkirakan perekonomian negara tersebut dapat menyusut hingga 20 persen dari 2017-2020. Ia juga mempertimbangkan peran pasar informal, sehingga menganggap BOK cenderung melebih-lebihkan penurunan.
"Ini memang krisis besar dan mungkin mendatangkan dampak politik yang lebih besar. Pasalnya, masyarakat sekarang punya kepentingan dan pengetahuan ekonomi lebih yang jauh lebih banyak daripada tahun 1990an setelah melakukan perdagangan, penyelundupan, dan kegiatan lain sendiri," komentar Kim.
Sementara itu, seorang sumber pemerintah Korea Selatan yang mengetahui masalah ini membenarkan bahwa Korea Utara menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak kelaparan tahun 1990an yang menewaskan 3 juta jiwa.
"Dua tahun penutupan perbatasan dan topan telah memperparah krisis Korea Utara, tetapi tidak sampai mengguncang fondasi ekonominya," ungkapnya.
Ekonomi Korea Utara telah dirundung sanksi internasional guna menekan Pemimpin Kim Jong-un agar meninggalkan program nuklir dan senjatanya. Bulan lalu, Kim mengakui kalau kebijakan pencegahan virus coronanya telah menyebabkan 'krisis besar'. Pada bulan Juni, ia juga mengatakan kalau negara tersebut menghadapi krisis pangan dengan alasan pandemi dan topan yang menerjang tahun lalu. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai




