Ramos Horta Ngamuk, Mandiri dan BRI Jadi 'Biang Kerok' Timor Leste Miskin

AKURAT.CO, Pasca memisahkan diri dari Indonesia pada awal abad ke-20, Timor Leste nyatanya masih dihantui kemiskinan hingga hari ini.
Bahkan, berdasarlkan laporan resmi Bank Dunia tahun 2020 itu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Timor Leste paling lambat dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Dilansir melalui laporan United National Development Programme (UNDP), Timor Leste berada di peringkat 152 negara sebagai negara termiskin di dunia dari 162 negara.
Dalam laporan dari UNDP itu, sejak Timor Leste merdeka pada 20 Mei 2002 lalu, terdapat tiga bidang yang menjadi fokus UNDP untuk membantu Timor Leste berkembang.
Bidang-bidang tersebut bertujuan untuk membina budaya pemerintahan demokratis yang efektif dan efisien, pengurangan kemiskinan, pengelolaan sumber daya lingkungan, dan kohesi sosial serta pencegahan konflik.
Kondisi perekonomian yang mencekik ini diperparah dengan adanya pandemi Corona yang menerjang seluruh dunia, termasuk Timor Leste. Akibatnya, banyak warga yang kehilangan pekerjaan dan tak mampu membayar kredit perbankan.
Hal itulah yang kemudian dieluhkan oleh mantan Presiden Timor Leste, Ramos Horta. Ia pun meluapkan murkanya pada Banco Nacional de Comercio de Timor-Leste (BCTL) atau Bank Sentral Timor Leste.
Dilansir dari The Oekusi Post, Ramos Horta menulis sendiri opininya tentang kondisi perekonomian Timor Leste saat ini. Ramos pun membawa-bawa dua bank milik pemerintah Indonesia yakni Mandiri dan BRI. Seperti diketahui, dua bank BUMN itu memang membuka cabang luar negeri di Timor Leste.
Berikut opini Ramos Horta yang dituliskannya pada Jum'at (11/8/2020) lalu.
"Sungguh mengherankan (atau tidak) bagaimana Pemerintah dan Bank Sentral bungkam terhadap bunga-bunga kejam yang dibebankan oleh cabang-cabang bank asing, yakni BNU / CGS, MANDIRI, BRI DAN ANZ BANK, yang rata-rata mencapai 16 persen atau lebih.
"Pada tahun 2019, cabang-cabang dari bank asing yang disebutkan di atas mengambil simpanan hampir $ 1 miliar. Sebuah pertanyaan yang harus ditanyakan dan harus dijawab mengapa bank asing yang memberikan pinjaman paling sedikit dan memberikan pinjaman dengan bunga mematikan adalah pilihan BCTL (dan banyak lembaga publik) yang disukai untuk menyimpan dolar negara kita?
Apakah simpanan ini disimpan di Timor Leste atau digunakan untuk mendanai dan memperoleh bunga di luar negeri untuk bank asing ini?
Saya telah terlibat dengan ratusan pemimpin global yang menyerukan penghapusan hutang negara-negara Dunia Ketiga. Kami dari Dunia Ketiga adalah korban pandemi kesehatan masyarakat dan kehancuran ekonomi global yang bukan sama sekali menjadi tanggung jawab kami. Dan apakah kita diharus terus membayar kepentingan skandal yang dikenakan oleh pemberi pinjaman?.
"Tetapi di negara saya sendiri, para pemimpin nasional belum mengatakan sepatah kata pun tentang suku bunga tinggi yang memalukan atau mengambil langkah-langkah untuk melibatkan pemberi pinjaman dalam dialog untuk segera atau paling tidak menengahi, menegosiasikan kembali hutang-hutang yang belum dibayar ini dengan bank," tulis Ramis Horta penuh emosi."
Selama beberapa pertemuan dengan cendikiawan terbaik Timor Leste saya mencoba mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk memahami status keuangan dan layanan yang diberikan oleh BNCTL dan bank asing yang berbasis di Timor Leste.
Saya sangat terkesan dengan kualitas manajemen senior, Antonio Vitor, Ketua Dewan Direksi, Antonio F Abrantes, Wakil Presiden, dan Brigido de Sousa, CEO. Mereka semua sangat berkualitas dan berpengalaman, dan seperti banyak anak muda Timor, mereka poliglot (bicara banyak bahasa), masing-masing berbicara 4 sampai 6 bahasa. Semua staf BNCTL, junior dan senior, adalah orang Timor.
Biaya (bunga) yang sangat tinggi yang dikenakan pada orang Timor Leste membuat warga berusaha membayar pinjaman di CGD / BNU, MANDIRI, ANZ BANK, BRI, hal ini adalah pembunuh sektor swasta di Timor Leste hambatan nyata bagi pembangunan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Sungguh mengherankan (atau tidak) bagaimana Pemerintah dan Bank Sentral bungkam terhadap bunga-bunga kejam yang dibebankan oleh cabang-cabang bank asing, yakni BNU / CGS, MANDIRI, BRI DAN ANZ BANK, yang rata-rata mencapai 16% atau lebih," lanjut penerima Nobel Perdamaian tersebut.
"Pada 2019, cabang-cabang dari bank-bank asing yang disebutkan di atas mengambil simpanan hampir $ 1 miliar. Sebuah pertanyaan yang harus ditanyakan dan harus dijawab ... mengapa bank asing yang memberikan pinjaman paling sedikit dan memberikan pinjaman dengan bunga mematikan adalah pilihan BCTL (dan banyak lembaga publik) yang disukai untuk menyimpan dolar negara kita?
Apakah simpanan ini berada di Timor Leste atau merupakan pembiayaan luar negeri dan menghasilkan bunga di luar negeri untuk bank asing ini?," tanya Ramos Horta dalam opininya.
Pembiayaan pemerintah BNCTL saat ini adalah $ 5 juta / tahun. Ini mungkin berguna untuk suku, layanan "kredit mikro" klasik tingkat aldeia yang meniru pengalaman Bank Hijau yang sukses. Jelas BNCTL bukanlah fasilitas microdit. Ini adalah Bank resmi, sepenuhnya didanai oleh Negara untuk melakukan layanan vital.
Yang mengherankan (atau benarkah?) Adalah bagaimana Pemerintah dan Bank Sentral bungkam terhadap bunga kejam yang dibebankan oleh cabang lokal bank asing, yaitu BNU / CGS, MANDIRI, BRI DAN ANZ BANK, yang mencapai 16% Bunga. biaya atau lebih. Ini adalah pembunuh ekonomi Timor," tulis Ramos Horta.
Sebagai informasi, sebelumnya santer isu yang menyebutkan bahwa warga negara Timor Leste meminta untuk kembali bergabung dengan Indonesia bila diberi kesempatan kedua. Hal itu pun menggemparkan banyak pihak lantaran mengingat betapa getolnya warga Timor Leste pada akhir abad ke-20 lalu yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah negara.
Sebuah fakta yang diungkap Bank Dunia itupun menjadi bukti kuat alasan rakyat Timor Leste ingin kembali gabung dengan Indonesia. Diketahui, perekonomian negara tersebut hanya bergantung pada pengeluaran pemerintah. Sedangkan pemerintah hanya memperoleh dana masuk dari dana perminyakan.
Hal itu pun langsung mendapatkan kritik pedas dari Pegiat media sosial Denny Siregar.
"Menjadi salah satu negara termiskin di dunia, Timor Leste nyesal pisah dari Indonesia. Kalian sih percaya gombalan Australia. Makan tuh, mereka habis manis sepah dibuang," tulis Denny melalui akun twitternya @DennySiregar7 yang dipantau Akurat.co, Kamis (3/9/2020).
Berbeda dengan Denny, Politisi Demokrat Ferdinand Hutahaean justru mengaku dirinya mendukung jika Timor Leste ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Dalam akun twitternya @FerdinandHaean3 menuliskan bahwa Timor Leste merupakan sebuah wilayah tak punya sumber daya alam memadai, tanah tak begitu subur bahkan kering. Inilah akibat dari nasionalisme sempat yang tak melihat realita akhirnya kesulitan.
"Secara pribadi saya mendukung Timor Leste ke Indonesia. Di sisi lain, tak sedikit warganet yang tak setuju jikabenar hal itu terjadi,” pungkasnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 6Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Sunderland vs AZ Alkmaar 17 September 2026: The Black Cats Bisa Tahan Tim Belanda?
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag



