Akurat Logo

Mengapa Islam Mudah Diterima Di Indonesia? Ini Jawaban Dari Prof Hossein Muttagh

| 14 Juni 2023, 14:41 WIB
Mengapa Islam Mudah Diterima Di Indonesia? Ini Jawaban Dari Prof Hossein Muttagh

AKURAT.CO Moderatisme dan toleransi dalam Islam penting untuk dipahami dan diimplementasikan inti ajarannya dalam kehidupan berbangsa Indonesia. 

Menurut Guru Besar al-Mustofa International University, Iran, Prof. Dr. Hossein Muttagh, ajaran mengenai moderatisme dan toleransi sudah berasimilasi sejak masuknya Islam di Indonesia serta terkandung 100 persen dalam ajaran Islam.

“Boleh jadi di banyak tempat para pemuda menggunakan kata yang kemudian menjadi terkenal itu (moderatisme) dan itu ada di mana-mana tapi banyak yang tidak mendalami dari konten yang terkandung dalam kata tersebut,” kata Hossein dalam acara seminar internasional, dikutip di Jakarta, Rabu (14/6/2023).

Seminar internasional bertajuk 'Merawat Toleransi Beragama ini diiniasi Universitas Paramadina bekerja sama dengan Al-Musthafa International University (Iran) & STAI Sadra didukung Paramadina Graduate School of Islamic Studies & Asosiasi Aqidah & Filsafat Islam, pada Selasa (13/5/2023).

Hossein menyebut sifat, karakter dan nilai moderatisme dan toleransi dibawa masuk oleh Islam ke Indonesia dengan jalan yang damai serta mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu. 

Untuk itu, ia mengatakan moderatisme dapat digali dengan berbagai ajaran Al Qur'an dan nilai-nilai yang diyakini bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

"Maka itu seharusnya para mahasiswa dapat menggali dengan serius asal kata moderatisme, akarnya dari mana, dan bagaimana kata moderat itu ada di dalam ajaran Al Qur'an, begitu pula dalam nilai-nilai sosial dan hal lain sehingga ketika moderatisme menjadi sebuah sikap kehidupan yang bisa dipahami dengan sebaik-baiknya dan bisa diamalkan," terangHossein. 

Moderatism dan toleransi yang dapat menjalankan roda agama sesuai dengan semestinya. Sikap dan nilai itulah pada perkembangan kemajuan dan bisa merealisasikan berbagai ajaran agama guna membawa manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah bermunculan para intelektual baru yang berbicara tentang moderatisme yang tak bisa dipungkiri. Para intelektual baru tersebut, Hossein membaginya dalam tiga kategori pemikiran. 

Pertama, para pemikir baru muslim yang muncul dan punya visi jauh ke depan di masa yang akan datang. Contohnya adalah pemikir baru muslim Sir Said Ahmad Hindi dari India (1817-1860) pendiri Universitas Aligar India. Alumninya di antaranya adalah pemikir muslim Iqbal.

"Kelompok pertama ini berusaha menjelaskan bahwa ajaran agama yang dia yakini sudah sesuai dan harmonis dengan perkembangan dunia modern dan masa depan," jelas Hossein.

Kelompok pemikir Islam kedua adalah mereka yang berpandangan sebaliknya, melihat ke belakang dan bukan ke masa depan. 

Menurut mereka, kehidupan modern dan masa depan harus sama dengan apa yang dulu dijelaskan oleh para pendahulu seperti kelompok Salafi. 

"Mereka berpendapat yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia di era modern adalah dengan mengembalikan ajaran agama kepada nilai-nilai para pendahulu. Tentu ada baik buruknya dari kelompok kedua ini, tetapi juga ada yang menyebabkan pertumpahan darah di berbagai tempat," papar Hossein.

Kelompok ketiga adalah para pemikir muslim yang mengangkat nilai atau isu moderatisme. 

Kelompok ketiga meyakini ajaran agama sudah sesuai dengan apa yang diajarkan para pendahulu namun dengan juga mempetimbangkan tempat dan zaman. Mereka berusaha menciptakan keyakinan moderatisme antara ajaran yang dulu juga pada masa depan. 

"Kelompok ketiga juga amat antusias untuk menjelaskan ajaran agama masa modern dan akan datang tetapi pada saat yang sama tidak ingin terlalu jauh memisahkan diri dari pemahaman para pendahulu," imbuhnya.[] 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.