Akurat Logo

Jadikan Peringatan Nuzulul Quran Kurikulum Diri Menjaga Moralitas

Aris Rismawan | 13 April 2023, 10:11 WIB
Jadikan Peringatan Nuzulul Quran Kurikulum Diri Menjaga Moralitas

AKURAT.CO, Peringatan Nuzulul Quran bisa menjadi kurikulum diri bagi setiap manusia Indonesia untuk selalu menjaga moralitasnya di dalam kehidupan sehari-hari, baik pada tataran keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian disampaikan KH Musyafa Ahmad Rahim, Ketua Bidang Kaderisasi DPN Partai Gelora Indonesia, dalam Gelora Talks bertajuk "Nuzulul Qur'an dan Aktualisasi Nilai-nilai Al Quran."

"Cara mengaktualisasikan nilai-nilai Al Quran adalah dengan menjadikan peringatan Nuzulul Quran semacam kurikulum diri kita, supaya Al Quran menjadi sumber inspirasi bagi setiap manusia," kata dia dikutip dari YouTube Gelora TV, Kamis (13/4/2023).

Disampaikan KH Musyafa, Al Quran telah mengajarkan kepada manusia agar selalu ingat atau eling untuk  melakukan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-harinya.

"Jadi Al Qur-an diturunkan kalau terjemahan lokal Indonesianya, supaya manusia menjadi sabar atau eling siapa dirinya dan hakikat kehidupannya di dunia," katanya.

Jelasnya, Al Qur'an adalah pedoman hidup bagi manusia baik di dalam keluarga, masyarakat maupun di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Termasuk apa yang dilakukan Partai Gelora yang membawa cita-cita Arah Baru Indonesia, itu inspirasinya dari Al Quran. Al Quran memberikan petunjuk dan arah bagi kita, kemana tujuan yang harus kita capai," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pembina MUI Jakarta Utara KH Nur Alam Bakhtir mengatakan, Al Quran telah mengajarkan kepada manusia mengenai integritas dan kejujuran. Sehingga moralitas setiap manusia baik atau tidak, tidak bisa dilihat berdasar pakai yang dikenakan seperti jubah atau jilbab.

"Jubah dan jilbab hanya pakaian biasa yang disebut dengan budaya seperti halnya pakai-pakaian di budaya kita. Tidak ada gunanya pakai jubah atau jilbab kalau tidak memiliki integritas atau kejujuran," katanya.

Karena itu, ia mengatakan, maraknya kasus korupsi di tanah air, menjadi suatu kewajaran karena para pejabat tidak memiliki integritas dan kejujuran. Bahkan aparat yang seharusnya menjadi penegak keadilan justru ikut terlibat.

"Makanya para koruptor, kalau ditangkap KPK itu berterima kasih, bukannya bersedih karena KPK menghapuskan dosa-dosa mereka," tegasnya.

Hal senada disampaikan Founder Al Fahmu Institute KH Fahmi Salim. Ia mengungkapkan, masih banyak pihak yang hanya mengambil keuntungan materi dari nilai-nilai Islam dan Al Quran tapi tidak menerapkan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-sehari.

"Tetapi ketika bicara tentang penegakan hukum tentang pemberantasan korupsi nilai-nilai Islam dan nilai-nilai Al Quran ditinggalkan. Inilah problem kita, Islam dan Al Quran baru simbol saja, sebatas ritual, retorika, label atau pemanis di bibir saja," kata KH Fahmi.

Namun, ia mengaku akan terus berusaha untuk menyakinkan agar semua pihak, terutama  pejabat untuk selalu meningkatkan kejujuran, integritas dan moralaritas agar menjadi pemimpin yang amanah.

"Kalau umat sendiri pada dasarnya memiliki fitrah yang baik, sehingga kita tidak perlu menciptakan kotak-kotak atau kultus kepada indvidu, termasuk upaya membenturkan nilai-nilai Pancasila dengan Al Quran," ujarnya.

Padahal Pancasila, katanya, hasil ijtihad para pendiri bangsa yang mengambil intisari dari nilai-nilai Al Quran. Sehingga antara Pancasila dan Al Quran satu hakekat.

"Yang membenturkan Pancasila dengan Al Quran sebenarnya adalah orang bodoh atau pandir. Padahal kalau kita lihat nilai-nilai Pancasila sudah menegakkan Al Quran," katanya.

KH Fahmi berharap mereka yang terus berupaya membenturkan antara Pancasila dan Al Quran harus terus diberikan pemahaman supaya tidak dicurigai membawa agenda Islamisasi Negara.

"NKRI ini secara syariat sebenarnya sudah Islam, tinggal bagaimana kita mengintensifkan nilai-nilai Pancasila dan Al Quran itu betul-betul terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
A