Akurat Logo

Kisah Al-Muktafi Billah, Khalifah ke-18 Dinasti Abbasiyah

Cendhy Vicky V | 20 Juni 2022, 18:26 WIB
Kisah Al-Muktafi Billah, Khalifah ke-18 Dinasti Abbasiyah

AKURAT.CO Begitu sang ayahnya yang juga seorang khalifah sakit menjelang wafat, Ali bin Al-Muhtadid dilantik sebagai pemimpin Dinasti Abbasiyah pada hari Jumat setelah salat Asar, 9 Rabiul Awwal 289 H. Dia kemudian digelari dengan nama “Al-Muktafi Billah”.

Berhubung posisi Al-Muktafi sedang berada di daerah  Riqqah, proses suksesi pun diwakili oleh menterinya yang bernama Abul Husein al-Qasim bin Ubaidillah. Al-Husein mengabari Al-Muktafi melalui surat terkait pelantikan itu

Sepulangnya ke Bagdhdad pada 7 Jumadal Ula dengan jabatan barunya sebagai khalifah Dinasti Abbasiyah yang sah, ia segera melakukan upaya rekosntruksi dengan menghilangkan sisa-sisa dari kekhalifahan sebelumnya yang tidak lagi relevan.

Bangunan penjara yang dulu dibangun sang ayah ia robohkan dan diganti dengan mendirikan masjid di atas lahan bekas penjara tersebut. Ia juga menginstruksikan kepada pembantu-pembantu khalifah untuk mengembalikan sejumlah taman dan toko ke pemiliknya yang pernah dirampas khalifah sebelumnya.

Pemberontakan

Dinamika dalam politik pasti dialami oleh setiap pemimpin, demikian juga yang terjadi di era Al-Muktafi. Sorang bernama Yahya bin Zakrawaih al-Qimrithi muncul sebagai pemberontak sampai terjadi konflik militer dengan pasukan kekhalifahan, hingga akhirnya Yahya berhasil dibunuh.

Setelah Yahya tewas, ideologi radikalnya diteruskan oleh saudaranya, Al-Husein. Ternyata Al-Husein pun tidak sendiri, ia bergerak bersama keponakannya, Isa bin Mahrawaih dan anaknya yang bergelar Al-Muthawwaq bin an-Nur. Ketiganya kompak melakukan pemberontakan hingga akhirnya mereka berhasil dibunuh pada 291 H.

Wafat

Al-Muktafi wafat pada malam Ahad, 12  Dzulqa’dah 295 H ia wafat di usianya yang ketiga puluh tahun. Dengan begitu ia hanya menjabat khalifah selama enam tahun, dari 289 H sampai 295 H.

Ia meninggalkan delapan anak laki-laki dan delapan anak perempuan. Dalam masa pemerintahan yang sangat singkat untuk ukuran sistem Dinasti ini tentu Al-Muktafi masih banyak memiliki tugas negara yang belum diselesaikan. Praktis, hal ini akan menjadi “beban” khalifah berikutnya, dan bisa saja terjadi instabilitas politik.

Benar saja, penerus kekhalifahan selanjutnya adalah Al-Muqtadir, adik sang khalifah sendiri yang saat itu baru berusia 13 tahun. Saking dininya usia Al-Muqtadir, sampai-sampai ia ditanyai apakah sudah baligh atau belum. Hal ini wajar karena usia baligh menjadi syarat kelayakan sebagai khalifah.

Karena kekanak-kanakkannya, masa pemerintahan Al-Muqtadir tidak stabil. Bahkan ia menjadi “khalifah boneka” karena dikendalikan oleh beberapa pihak.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

C
A
Editor
Abror