Kisah Tragis Khalifah Termuda dari Dinasti Abbasiyah

AKURAT.CO Sejarah mengisahkan aneka peristiwa pada masa silam. Hitam putihnya tetap harus disampaikan. Jika ada kebaikan dari data yang diperoleh, seorang sejarawan harus menyampaikannya. Pun jika ada sisi kelam, sejarawan tetap harus menyampaikan apa adanya secara objektif.
Dalam sejarah politik Islam klasik juga demikian, banyak nilai-nilai teladan dari tokoh pemimpin terdahulu, tidak sedikit pula kisah kelam yang tetap harus disampaikan untuk dijadikan pelajaran di masa sekarang dan yang akan datang.
Salah satu kisah kelam dalam sejarah politik Islam klasik adalah sejarah tragis terbunuhnya khalifah Al-Muqtadir Billah. Usianya yang baru 13 tahun membuat banyak pihak merasa kurang puas dengan sepak terjangnya. Sehingga, beberapa kali ia mencoba dilengserkan oleh rival-rival politiknya.
Dikisahkan, sekali waktu Al-Muqtadir berencana untuk menurunkan Mu’nis al-Mudzaffar (salah seorang pejabat pemerintahan pada masa kekhalifahannya) dari kursi jabatannya dan menggantikannya dengan Harun bin Ghalib.
Mu’nis yang mendengar rencana sangat tidak menguntungkan dirinya itu segera menyusun langkah untuk melakukan serangan besar-besaran. Singkat kisah setelah persiapan cukup matang, Mu’nis bersama pasukannya menyerang istana. Peristiwa ini terjadi pada tahun 317 H.
Al-Muqtadir dan orang-orang istana yang menerima serangan dadakan dangan jumlah pasukan cukup banyak ini tidak berdaya. Al-Muqtadir yang bersembunyi di dalam istana dipaksa keluar dan diusir. Selain sang khalifah, ibu, bibi, dan istri-istrinya pun dipaksa untuk pergi.
Setelah itu, diangkatlah Muhammad al-Muhtadid sebagai khalifah menggantikan Al-Muqtadir dengan gelar Al-Qahir Billah.
Rupanya al-Muhtadid belum memahami peta politik kekhalifahan yang berlaku di sana hingga membuatnya melakukan keasalahan fatal, yaitu tidak membayar para tentara yang pada masa Al-Muqtadir mereka mendapat gajian.
Al-Muhtadid pun dipaksa lengser oleh para tentara dan Al-Muqtadir kembali menduduki kursi kekhalifahan. Sejak saat itu upah tentara dinaikkan.
Rupanya Mu’nis masih menyimpan dendam dengan Al-Muqtadir. Ia kemudian kembali melakukan serangan ke istana dengan membawa pasukan dari suku Barbar pada Rabu, 27 Syawal 319 H.
Meletuslah pertempuran antara pasukan Al-Muqtadir dan Mu’nis. Dalam peperangan itu Al-Muqtadir terkena tombak hingga membuatnya tumbang dan kepalanya dipenggal serta pakaiannya dilucuti. Wallahu a’lam bishawab. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 5Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 6Djarot Pilih Hak Menyatakan Pendapat soal Ijazah Gibran, Kenapa Bukan Hak Angket?
- 7Jalur Alternatif Demo Jakarta Hari Ini 20 Oktober 2026, Cek Rute Pengalihan Arus!
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa




