Rupiah Melemah, Purbaya: FDI Masih Butuh Waktu Untuk Mengalir

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun ini menunjukkan volatilitas yang cukup tajam.
Nilai tukar rupiah tercatat berfluktuasi dengan tingkat volatilitas mencapai sekitar 4%, meski ekonomi nasional berada dalam kondisi yang dinilai stabil dan pasar saham mencatat kinerja positif.
Pada penutupan perdagangan terbaru, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.724 per USD (end of period/eop). Rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun berjalan tercatat mencapai Rp16.448 per USD.
Bahkan, pada perdagangan intraday 26 September 2025, rupiah sempat tertekan hingga Rp16.790 per USD, level terendah sejak 29 April 2025.
Pergerakan tersebut menimbulkan pertanyaan di publik karena tidak sejalan dengan indikator ekonomi domestik yang cenderung solid. Bursa saham terus menunjukkan tren positif, sementara pertumbuhan ekonomi dinilai tetap kuat dan berada pada jalur yang stabil.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pelemahan rupiah tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan fundamental ekonomi dalam negeri.
Baca Juga: Rupiah Berbalik Melemah 28 Poin ke Rp16.735
Menurutnya, faktor eksternal masih mendominasi dinamika rupiah, termasuk kondisi geopolitik global dan arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia.
“Nilai tukar rupiah stabil Rp16.704 per USD, terkendali karena meredupnya tensi dagang global dan longgarnya bank sentral AS. Kenapa bursa kuat, ekonomi stabil tapi rupiah melemah?” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (27/11/2025).
Dirinya menjelaskan bahwa salah satu faktor kunci penopang nilai tukar adalah arus investasi langsung luar negeri atau foreign direct investment (FDI).
Namun, realisasi FDI membutuhkan waktu untuk mengalir, sehingga dampaknya terhadap suplai dolar di pasar domestik tidak langsung terasa.
Purbaya menyebutkan bahwa masuknya FDI akan memperkuat posisi rupiah melalui tambahan pasokan valuta asing.
Kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi penentu apakah modal asing akan bergerak masuk dalam skala yang lebih besar. “Kalau ekonomi kita tumbuh lebih cepat, investor asing akan lakukan ekspansi bisnisnya maka rupiah akan cenderung menguat,” tegasnya.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat iklim investasi, termasuk melalui reformasi struktural serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








