Akurat Logo

Harga Emas Global Menuju USD3.950 Karena 7 Faktor Berikut

M. Rahman | 6 Oktober 2025, 18:03 WIB
Harga Emas Global Menuju USD3.950 Karena 7 Faktor Berikut

AKURAT.CO Harga emas dunia menyentuh level USD3.944,01 per troy ounce, naik 57,21 poin (1,47%) pada perdagangan hari ini. 

Dalam waktu dekat harga emas global ditaksir tembus level USD3.950 dan bahkan ke USD4.000 di awal November mendatang. Demikian ramalan Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Senada dengan harga emas, logam mulia pun bisa menyentuh level Rp2,3 juta per gram dari saat ini di kisaran RP2,25 juta per gram. Setidaknya ada 7 sentimen yang menggelembungkan harga emas global maupun logam mulia.

Pertama, perpolitikan AS dimana shutdown pemerintahan federal yang sampai saat ini masih terjadi. Negosiasi antara partai republik dan demokrat di kongres pun terus mengalami kebuntuan.

Kedua, adanya perselisihan pendapat antara Jaksa Agung AS dengan Trump. Trump mengerahkan 200 pasukan garda nasional dari california ke Oregon namun Jaksa Agung menolak permintaan Trump.

Baca Juga: Harga Emas Global Bakal Tembus USD3.443,7 per Ounce Karena Ini

"Ini memanaskan situasi di AS. Pada saat terjadi penghentian sementara pemerintahan federal, kebijakan Trump pun ditolak oleh Jaksa Agung. Bagi Jaksa Agung demonstrasi tersebut tak parah dan tak akan memicu makar," ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (6/10/2025).

Ketiga, dengan kondisi diliburkannya pemerintahan federal ada kemungkinan besar The Fed di Oktober akan menurunkan suku bunga. 99% ekonom berekspektasi The Fed akan menurunkan FFR atau suku bunga 25 bps dalam pertemuan di bulan Oktober ini.

Keempat, terpilihnya politisi konservatif Sanae Takaichi sebagai pemimpin partai demokrat liberal di Jepang (partai penguasa), sehingga kemungkinan besar Takaichi akan menjadi Perdana Menteri Jepang.

"Sosok takaichi dikenal dovish terkait fiskal. Sehingga kemungkinan besar BoJ tak akan lagi menaikkan suku bunga atau dipertahankan sesuai pelemahan Yen Jepang terhadap USD. Ini akan berpengaruh ke emas sebagai safe haven," jelas Ibrahim.

Kelima, perang dagang antara AS dan China dimana di tanggal 14 Oktober nanti berlaku tarif Trump yang naik 2 kali lipat bagi barang-barang China dan ini mengindikasikan perkeonomian China akan terus mengalami masalah akibat perang dagang yang masih akan terus berkecamuk sampai waktu yang belum pasti.

Keenam, geopolitik di Uni Eropa dimana Ukraina terus mengintensifkan serangan ke fasilitas energi Rusia, bahkan menargetkan kilang kirishi, salah satu kilang minyak terbesar di Rusia berkapasitas 20 juta ton lebih.

"Masyarakat ke depan akan lebih condong ke geopolitik di Eropa yang masih membara. Rusia adalah anggota OPEC+ dengan cadangan minyak terbesar di dunia, yang berpengaruh ke perekonomian secara global," ujar Ibrahim.

Terakhir, perkembangan terkini di Timur Tengah menunjukkan indikasi positif dimana akan ada pertemuan teknis antara Israel dan Hamas dan kemungkinan Hamas akan menyetujui proposal dari Trump.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa