Akurat Logo

Sederet Inovasi BEI di 2024

Hefriday | 23 Oktober 2024, 17:32 WIB
Sederet Inovasi BEI di 2024

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus bertransformasi menjadi bursa efek yang menawarkan beragam kelas aset.

Sepanjang 2024, BEI bersama organisasi pengatur mandiri (SRO) dan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meluncurkan sejumlah inisiatif penting. Salah satunya adalah peluncuran ASEAN Interconnected Sustainability Ecosystem (ASEAN-ISE) pada awal tahun 2024. 

BEI juga mengimplementasikan Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) Improved Trading Mechanism, serta memperkenalkan Indeks IDX Cyclical Economy 30 dan Indeks IDX-Infovesta Multi-Factor 28 sebagai acuan investasi baru.

"Selain itu, BEI meluncurkan produk Single Stock Futures (SSF) pada peringatan 47 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia pada Agustus 2024. Produk ini diharapkan dapat memperluas pilihan investasi bagi para pelaku pasar," ujar Direktur Utama BEI, Iman Rachman di sela Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tahun 2024 secara hybrid, Rabu (23/10/2024).
 
Baca Juga: MRA Waskita Buka Peluang BEI Buka Gembok Suspensi Saham

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada 18 Oktober 2024, IHSG mencapai level 7.760,060, naik 6,70% dibandingkan dengan Desember 2023. Kapitalisasi pasar juga mengalami lonjakan hingga 11%, mencapai Rp12.967 triliun pada Oktober 2024. Rekor tertinggi IHSG tercatat pada 19 September 2024, dengan angka 7.905,30 dan kapitalisasi pasar Rp13.475 triliun.

Aktivitas pencatatan efek baru di BEI juga meningkat dengan 36 perusahaan tercatat hingga Oktober 2024, menambah jumlah total perusahaan yang tercatat di pasar modal menjadi 938. Di sisi lain, perdagangan produk obligasi melalui SPPA mengalami pertumbuhan rata-rata transaksi harian mencapai Rp993 miliar, naik 44,7% dibandingkan akhir 2023.

Target 2025

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan atau RKAT 2025, BEI memproyeksikan peningkatan Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) menjadi Rp13,5 triliun dengan target 407 pencatatan efek baru. Selain itu, BEI menargetkan 2 juta investor baru pada tahun 2025, mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan pasar modal Indonesia. Faktor makroekonomi, seperti tren penurunan inflasi dan suku bunga global, serta kebijakan pemerintah yang baru, menjadi landasan proyeksi ini.

Pembaruan teknologi juga menjadi fokus utama BEI pada tahun 2025. Pembaruan sistem perdagangan yang lebih andal dan optimal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kapasitas pasar modal Indonesia, sejalan dengan perkembangan teknologi yang mendukung low latency dan siklus enam tahunan yang diterapkan BEI.

Dari segi keuangan, BEI memproyeksikan peningkatan pendapatan sebesar 9,01% menjadi Rp1,78 triliun pada tahun 2025. Laba bersih diharapkan naik 1,53% menjadi Rp275,02 miliar, dengan rasio cost to income di angka 81,4%. Total aset BEI diproyeksikan mencapai Rp7 triliun pada akhir tahun 2025, dengan ekuitas di atas Rp6 triliun.

Secara keseluruhan, BEI berkomitmen untuk terus melakukan pendalaman pasar melalui pengembangan produk dan layanan baru, serta perluasan pasar pada derivatif keuangan, guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan pasar modal Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa