Cukai Tembakau Dominan, Ekonom AS Peringatkan Risiko Fiskal

AKURAT.CO Ekonom senior Amerika Serikat, Arthur B. Laffer, menyampaikan keprihatinannya atas dominasi cukai tembakau dalam struktur penerimaan negara Indonesia.
Dirinya menilai ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu sektor dapat menimbulkan risiko fiskal yang serius dalam jangka panjang.
Laffer mengungkapkan bahwa saat ini cukai dari sektor tembakau menyumbang sekitar 95% dari total penerimaan cukai Indonesia. Kondisi ini menurutnya tidak berkelanjutan dan dapat menimbulkan efek kontraproduktif terhadap perekonomian nasional.
“Saya khawatir fokus yang sempit ini berisiko dan tidak berkelanjutan,” kata Laffer di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Baca Juga: Firstunion Luncurkan PTH Master, Tandai Era Baru Tembakau
Laffer menjelaskan bahwa beban cukai yang tinggi pada satu sektor, seperti industri tembakau, dapat memicu penurunan perdagangan legal, mengganggu stabilitas industri padat karya, dan bahkan mendorong peredaran produk ilegal.
Dampaknya bukan hanya pada pelaku industri, tetapi juga pada pemerintah yang kehilangan potensi penerimaan negara dan masyarakat pekerja yang terdampak pemangkasan lapangan kerja.
Situasi ini, kata dia, juga telah terjadi di negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand, dan Pakistan yang mengalami penurunan output industri akibat tekanan fiskal yang tidak proporsional.
Untuk itu, Laffer mendorong pemerintah Indonesia untuk meninjau ulang struktur kebijakan cukai, terutama pada sektor tembakau. Ia menyarankan agar pemerintah mulai mendiversifikasi sumber penerimaan cukai ke sektor lain, sehingga beban fiskal tidak hanya ditanggung satu industri saja.
“Kerangka cukai yang lebih luas dan lebih seimbang akan meningkatkan ketahanan fiskal dan mengurangi volatilitas,” ujar Laffer.
Baca Juga: Sambut Dirjen Bea Cukai Baru, GAPPRI Ingatkan Tantangan Industri Hasil Tembakau ke Depan
Menurutnya, reformasi cukai harus dilakukan secara strategis dan terukur, dengan tetap menjaga keberlanjutan industri nasional serta memastikan penerimaan negara tetap optimal tanpa mengorbankan aspek sosial dan ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan









