Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Emas BerpotensiTertekan Hingga USD2.850

AKURAT.CO Harga emas saat ini masih berada dalam kondisi tertekan dengan tren bearish yang berpotensi menurunkan nilainya hingga mencapai USD2.850. Kondisi ini terjadi di tengah serangkaian sentimen negatif yang meliputi kebijakan tarif baru AS, konflik geopolitik, serta data ekonomi yang belum dirilis.
Harga emas saat ini tercatat berada di level USD2.863,1, menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,15% dalam perdagangan terbaru. Namun, harga emas telah mengalami penurunan sekitar 3% sejak sempat mencapai rekor tertinggi di USD2.956 pekan lalu.
Analis Dupoin Indonesia, Andy Nugraha, mengungkapkan bahwa tekanan bearish masih mendominasi pergerakan harga logam mulia ini.
"Kebijakan perdagangan terbaru yang diumumkan oleh Presiden AS menjadi salah satu pemicu utama penurunan harga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (3/3/2025).
Presiden Amerika Serikat baru-baru ini menegaskan rencana penerapan tarif baru untuk Meksiko dan Kanada, serta kenaikan tarif impor dari China hingga mencapai total 20%. Pernyataan ini mengejutkan pasar yang sebelumnya mengharapkan penundaan dalam kebijakan tarif tersebut.
"Dari sudut pandang teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa tren bearish masih kuat. Apabila kondisi ini berlanjut, harga emas dapat turun ke level kritis USD2.850," imbuhnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, 3 Maret 2025: Terlihat Stabil di Rp1.714.000 per Gram
Meski demikian, analis tersebut juga menyatakan bahwa jika terjadi rebound dari titik terendah tersebut, ada kemungkinan harga emas akan naik kembali mencapai target terdekat di USD2.877. Hal ini menunjukkan adanya potensi pemulihan dalam jangka pendek.
Secara fundamental, situasi global yang tidak pasti, terutama terkait konflik antara Rusia dan Ukraina, terus mendorong minat beli pada emas sebagai aset safe haven. Pada sesi perdagangan Asia, harga emas sempat menyentuh level USD2.870, mencerminkan adanya permintaan dari beberapa investor.
Para pelaku pasar kini juga menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM. Data ini diperkirakan akan menunjukkan kenaikan YoY yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga dapat mempengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.
Selain itu, indeks indikator ekonomi lain seperti Indeks PCE inti juga menunjukkan tren penurunan, yang memberi sinyal bahwa The Fed mungkin akan lebih berhati-hati dalam memutuskan pemotongan suku bunga selanjutnya. Peluang penurunan suku bunga pada bulan Juni diperkirakan meningkat secara signifikan.
Di tengah dinamika tersebut, sebuah insiden di Ufa, Rusia, yakni kebakaran di sebuah kilang minyak turut menambah kekhawatiran di kalangan investor. Meskipun dinyatakan tidak mengancam keselamatan masyarakat, kejadian ini tetap menjadi sorotan karena potensi dampaknya pada dinamika geopolitik global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









