AKURAT.CO Layanan keuangan berbasis teknologi, seperti paylater, terus berkembang pesat di Indonesia. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pembiayaan melalui paylater meningkat sebesar 63,89% pada Oktober 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menunjukkan tingginya permintaan masyarakat terhadap akses kredit yang mudah dan cepat. Namun, penting bagi pengguna untuk memahami bahwa pemanfaatan paylater secara bijak membutuhkan pengelolaan keuangan dan kesehatan mental yang baik.
Psikolog klinis Disya Arinda, M.Psi., menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dalam mengelola keuangan, termasuk penggunaan paylater.
“Jika paylater digunakan dengan motivasi positif, seperti mengelola arus kas atau memenuhi kebutuhan penting, pengguna dapat memperoleh manfaat optimal. Namun, jika penggunaan dipicu oleh fenomena FOMO (fear of missing out) atau YOLO (you only live once), hal ini dapat meningkatkan risiko stres dan kecemasan,” jelasnya dalam Diskusi Media Terbatas Kredivo, Rabu (15/1/2025).
Baca Juga: Cara Jitu Hindari Denda Paylater
Menurut Disya, pola hidup konsumtif pada generasi muda tidak semata-mata disebabkan oleh akses keuangan seperti paylater atau kartu kredit. Faktor eksternal, seperti pengaruh media sosial, turut memengaruhi gaya hidup konsumtif.
Oleh karena itu, mindset pengguna dalam mengelola uang menjadi kunci penting agar paylater berfungsi sebagai alat pembayaran yang mendukung pengelolaan keuangan.
Sejalan dengan hal tersebut, Kredivo sebagai salah satu pelopor layanan paylater di Indonesia terus berupaya meningkatkan edukasi pengguna. Berdasarkan survei Kredivo dan Katadata Insight Center, 68% pengguna mendapatkan akses kredit pertama mereka melalui paylater.
Kredivo juga meluncurkan program edukasi seperti Generasi Djempolan dan kampanye #AndaiAndaPandai untuk membangun pola pikir finansial yang sehat. Melalui inisiatif ini, generasi muda diajak untuk memahami risiko dan manfaat paylater, sehingga dapat menggunakannya secara bijak dan mendukung keseimbangan antara kesehatan keuangan dan mental.
Selain itu, Indina menekankan pentingnya kolaborasi antara penyedia layanan keuangan, regulator, dan masyarakat. “Kami berharap paylater tidak hanya menjadi solusi akses kredit, tetapi juga alat yang mendukung kesejahteraan pengguna dalam jangka panjang,” tambahnya.
Fenomena FOMO dan YOLO, yang sering dihadapi oleh generasi muda, menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan paylater. Oleh karena itu, edukasi dan dukungan terhadap pengguna menjadi prioritas untuk mencegah dampak negatif seperti perilaku konsumtif berlebihan atau doom spending.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










