Akurat Logo

Jelang Pilpres AS, Volatilitas Pasar Meningkat

Hefriday | 24 Oktober 2024, 18:46 WIB
Jelang Pilpres AS, Volatilitas Pasar Meningkat

AKURAT.CO Volatilitas pasar keuangan global terus meningkat menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS), yang dijadwalkan berlangsung dalam hitungan hari. Kekhawatiran akan risiko fiskal yang dihadapi ekonomi AS pasca pemilu semakin mendorong kehati-hatian di kalangan investor, termasuk pelaku pasar di Indonesia.

Ketidakpastian ini telah berdampak signifikan pada arus modal asing keluar dari pasar Indonesia. Sepanjang Oktober ini, arus keluar modal asing mencapai USD488,6 juta, setara dengan Rp7,63 triliun, menurut data Bloomberg. Pada perdagangan terbaru, Rabu (23/10/2024), investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp2,72 triliun di pasar saham, mencatat nilai penjualan terbesar dalam dua pekan terakhir.

Sementara itu, pasar obligasi masih mencatat pembelian bersih (net buy) sebesar Rp706,8 miliar. Namun, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS, terdepresiasi hingga 3,07% sepanjang Oktober. Yield Surat Utang Negara (SUN) Indonesia juga naik dari kisaran 6,43% di akhir bulan lalu menjadi 6,778% pada pekan ketiga Oktober.

Baca Juga: Dukung Trump, Elon Musk Kucurkan Dana Kampanye Rp1,16 Triliun

Perekonomian AS menghadapi risiko peningkatan defisit fiskal di bawah pemerintahan baru, baik itu Donald Trump atau Kamala Harris, karena program kampanye keduanya diprediksi akan meningkatkan belanja negara. Para analis memperkirakan program belanja tersebut akan memicu inflasi lebih tinggi, yang dapat membuat kebijakan penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) terbatas.

Saat ini, pelaku pasar semakin pesimistis terhadap prospek penurunan suku bunga The Fed. Dari ekspektasi awal bahwa bank sentral AS akan melakukan 5-8 kali pemangkasan suku bunga pada 2025, kini proyeksi tersebut dipangkas menjadi hanya 2-4 kali. Situasi ini memicu kenaikan yield obligasi AS, yang kini mendekati level tertinggi sejak Juli.

Di tengah ketidakpastian pasar, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. BI memperkirakan volatilitas pasar akan tetap tinggi hingga hasil Pilpres AS diumumkan. Edi Susianto, Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menegaskan bahwa BI akan menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.

Ketidakpastian di pasar keuangan global telah mendorong para investor global untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan Bitcoin. Harga emas kembali mencetak rekor baru, sementara Bitcoin melonjak 0,82% ke level USD67.132,98 dan diprediksi akan mencapai rekor baru USD80.000 pada akhir November.

Dikutip dari Bloomberg News, Paul Tudor Jones, seorang investor legendaris, memperingatkan bahwa defisit fiskal AS yang terus membengkak bisa menjadi "bom waktu utang" yang berpotensi memperburuk inflasi. Ia juga menyatakan bahwa baik Trump maupun Harris berpotensi memperbesar defisit fiskal, yang diperkirakan akan mencapai 122% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2034.

Dengan ketidakpastian global yang semakin tinggi, investor terus mencari perlindungan di aset-aset seperti emas dan Bitcoin, yang dipandang sebagai pelindung terhadap potensi inflasi yang melonjak di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa